Pendaftaran paket c kejar paket C

Pendaftaran paket c kejar paket C
Pendaftaran paket c kejar paket C

Syarat-syarat pendaftaran Paket A ( Pendidikan kesetaraan SD ).
(1) Mengisi Formulir Pendaftaran
(2) Sudah dapat membaca dan menulis dan berhitung (CALISTUNG).
(3) Peserta boleh dari luar kota di seluruh Indonesia.
(4) Menyerahkan pas foto:
(a) 2x3 sebanyak 5 lembar.
(b) 3x4 sebanyak 10 lembar
(c) Foto harus mengenakan baju putih berkerah (bukan kaos), foto berwarna,YARAT-SYARAT PENDAFTARAN

Syarat-syarat pendaftaran Paket B ( Pendidikan kesetaraan SMP ).
(1) Mengisi Formulir Pendaftaran
(2) Menyerahkan 5 lembar Fotocopy Ijazah SD.
(a) Ijazah SD boleh berasal dari daerah di seluruh Indonesia.
(b) Juga menerima peserta dari luar Indonesia / berijazah setara SMP asal luar negeri.
(3) Menyerahkan pas foto:
(a) 2x3 sebanyak 5 lembar.
(b) 3x4 sebanyak 10 lembar
(c) Foto harus mengenakan baju putih berkerah (bukan kaos), foto berwarna,

Syarat-syarat pendaftaran Paket C ( Pendidikan kesetaraan SMA ).
(1) Mengisi Formulir Pendaftaran
(2) Menyerahkan 5 lembar Fotocopy Ijazah SMP.
(a) Ijazah SMP boleh berasal dari daerah di seluruh Indonesia.
(b) Juga menerima peserta dari luar Indonesia / berijazah luar negeri.
(3) Menyerahkan pas foto:
(a) 2x3 sebanyak 5 lembar.
(b) 3x4 sebanyak 10 lembar
(c) Foto harus mengenakan baju putih berkerah (bukan kaos), foto berwarna,


WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN

Pendaftaran dibuka setiap hari. Jam buka pendaftaran 08.00 s/d 18.00.
Tempat pendaftaran di :
– RISTEK NUSANTARA –
Jl. Percetakan Negara 9 No.4 B Jakarta Pusat.
LOKASI MASUK DARI SAMPING KANAN RUTAN SALEMBA.- JL. PERCETAKAN NEGARA IX - JALAN BESAR MASUK MOBIL PARKIR DI DEPAN RISTEK
Telepon:
Ibu Nur
08161404440 (Mentari)
081213589558 (Simpati)
Irma
02193088375 (Esia)
Johan
02192750340 (Esia)
087881351485 (XL)
081281296537 (Simpati)
(021) 4240024 (Telepon Rumah)

TEMPAT BELAJAR
(1) Belajar secara tatap muka/belajar perkelas..
(2) Jam belajar ( SABTU/MINGGU jam 09.00 – 16.00)
(3) Tempat Belajar :
(1) RISTEK NUSANTARA - Jakarta:
Jl. Percetakan Negara 9 No. 4-B Jakarta Pusat.
(2) RISTEK NUSANTARA - Depok:
Jl. Abdul Wahab Rt.4 Rw.7 Kelurahan Kedaung Kecamatan Sawangan (daerah Pondok Petir) DEPOK.

UJIAN
Ujian diadakan 2 kali dalam setahun.
(*) Ujian gelombang I diadakan bulan Juni. Untuk mengikuti ujian
gelombang I anda harus terdaftar sebagai peserta sekolah
selambat-lambatnya bulan Februari.
(**) Ujian gelombang II diadakan bulan Oktober/Nopember. Untuk
mengikuti ujian gelombang II anda harus terdaftar sebagai peserta
sekolah selambat-lambatnya bulan Agustus.


LAIN - LAIN
Hal-hal mengenai pendaftaran dan lain-lain dapat ditanyakan langsung
ke pengelola:
Ibu Nur
08161404440 (Mentari)
081213589558 (Simpati)
Irma
02193088375 (Esia)
Johan
02192750340 (Esia)
087881351485 (XL)
081281296537 (Simpati)
(021) 4240024 (Telepon Rumah)

PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN

1. DIMANA ALAMAT PENDAFTARAN RESMI PAKET A/B/C?
- Jika anda berada di Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang dan
sekitarnya daftar langsung ke:
Ristek Nusantara
Jl. Percetakan Negara 9 No.4-B
Kelurahan Rawasari Kecamatan Cempaka Putih
Jakarta Pusat.


2. SAYA DI LUAR KOTA/LUAR NEGERI, BAGAIMANA CARA MENDAFTARNYA?
- Cara !:
Boleh diwakilkan oleh saudara/teman yang ada di Jakarta dengan membawa
syarat-syarat pendaftaran dan mengisi formulir pendaftaran yang
disediakan di tempat pendaftaran.

- Cara II:
Mengirimkan syarat-syarat pendaftaran yang diperlukan melalui TIKI/POS
ke alamat:
IBU NUR (Ristek Nusantara)
Jl. Percetakan Negara 7 No.1 Rt/Rw. 011/004
Kelurahan Rawasari Kecamatan Cempaka Putih
Jakarta Pusat.

3. APA SYARAT-SYARATNYA UNTUK MENDAFTAR PAKET A?
- Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan.
- Menyerahkan Pas Foto Ukuran 2x3 (5 buah) dan 3x4 (10 buah).
- Foto boleh berwarna dan harus mengenakan baju putih (bukan kaos).
Foto digunakan untuk ijazah.

4. APA SYARAT-SYARATNYA UNTUK MENDAFTAR PAKET B?
- Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan.
- Fotocopy ijazah SD sebanyak 5 lembar.
- Menyerahkan Pas Foto Ukuran 2x3 (5 buah) dan 3x4 (10 buah).
- Foto boleh berwarna dan harus mengenakan baju putih (bukan kaos).
Foto digunakan untuk ijazah.

5. APA SYARAT-SYARATNYA UNTUK MENDAFTAR PAKET C?
- Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan.
- Fotocopy ijazah SMP sebanyak 5 lembar.
- Menyerahkan Pas Foto Ukuran 2x3 (5 buah) dan 3x4 (10 buah).
- Foto boleh berwarna dan harus mengenakan baju putih (bukan kaos).
Foto digunakan untuk ijazah.

6. APAKAH BISA MENDAFTAR SECARA ONLINE?
- Tidak bisa.

7. APAKAH BISA MENDAFTAR MELALUI TELEPON?
- Boleh mendaftar melalui Telepon. Hubungi Ibu Nur di Telp.08161404440
.
8. BAGAIMANA CARA PEMBAYARAN?
- Pembayaran secara Cash atau Transfer bank.

9. APAKAH CARA PEMBAYARAN BOLEH DIANGSUR?
- Pembayaran BOLEH DIANGSUR 4 kali masing masing 25% dari total biaya
dan harus sudah lunas sebelum mengikuti ujian.

10. APAKAH IJAZAH INI RESMI?
- Ijazah ini Resmi Ijazah Negara, terdaftar di Dinas Dikmen.

11. APAKAH HARUS HADIR SAAT UJIAN?
- Ya, anda harus hadir mengikuti ujian pada tanggal yang ditentukan.
- Ujian ini adalah ujian RESMI yang diadakan Negara/Pemerintah,
Tanggal, waktu dan tempat ujian akan ditentukan kemudian. Tanyakan
tatacaranya ke Ibu Nur Telp.08161404440

12. USIA SAYA SUDAH 40 TAHUN, MASIH BOLEHKAH MENGIKUTI PAKET B?
- Boleh. Paket ini tidak memandang usia. Asalkan ada niat dan
kesempatan, usia berapapun boleh mengikuti paket ini.

13. SAYA DROPOUT KELAS 2 SMP, BOLEHKAN SAYA IKUT UJIAN PAKET B SETARA SMP?
- Boleh.

14. SAYA DROPOUT KELAS 2 SMA, BOLEHKAN SAYA IKUT UJIAN PAKET C SETARA SMA?
- Boleh.

15. DIMANAKAH HARI WAKTU DAN TEMPAT BELAJAR?
- Belajar hari SABTU dan MINGGU. Dari jam 10.00 – 16.00 di RISTEK NUSANTARA.

16. SAYA SIBUK KERJA, TIDAK BISA HADIR BELAJAR?
- Bahan pelajaran Silahkan diambil di RISTEK NUSANTARA dan anda boleh
belajar di rumah.

17. SAYA DI LUAR KOTA, TIDAK BISA HADIR BELAJAR?
- Bahan pelajaran akan kami kirimkan ke alamat anda. Anda boleh
belajar di rumah.

18. KAPAN UJIAN GELOMBANG PERTAMA?
- Ujian gelombang I dilaksanakan bulan Juni/Juli setiap tahunnya.
- Untuk mengikuti ujian Gelombang I anda harus terdaftar sebagai
peserta sekolah selambat-lambatnya bulan Februari.

19. SAYA MENDAFTAR BULAN MARET BOLEHKAH SAYA MENGIKUTI UJIAN GELOMBANG
I BULAN JUNI/JULI?
- Tidak Boleh. Walaupun ujiannya diadakan bulan Juni/Juli dan anda
mendaftar bulan Maret anda tetap tidak boleh ikut ujian. Bulan
(Maret-April–Mei) data sudah harus dikumpulkan ke dinas untuk diolah.
Jadi anda harus mendaftar selambat-lambatnya bulan Februari untuk
mengikuti ujian Gelombang I.

20. KAPAN UJIAN GELOMBANG KEDUA?
- Ujian gelombang II dilaksanakan bulan Oktober/Nopember setiap tahunnya.
- Untuk mengikuti ujian Gelombang II anda harus terdaftar sebagai
peserta sekolah selambat-lambatnya bulan Agustus.

21. SAYA MENDAFTAR BULAN SEPTEMBER BOLEHKAH SAYA MENGIKUTI UJIAN
GELOMBANG II BULAN OKTOBER/NOPEMBER?
- Tidak Boleh. Walaupun ujiannya diadakan bulan Oktober/Nopember dan
anda mendaftar bulan September sebelum ujian anda tetap tidak boleh
ikut ujian gelombang II.
Bulan (September-Oktober) data sudah harus dikumpulkan ke dinas untuk
diolah. Jadi anda harus mendaftar selambat-lambatnya bulan Agustus
untuk mengikuti ujian Gelombang II.

22. PERIODE PENDAFTARAN?
- Pendaftaran bulan
September/Oktober/Nopember/Desember/Januari/Februari akan mengikuti
ujian di bulan juni/Juli (Ujian Gelombang I).
- Pendaftaran bulan Maret/April/Mei/Juni/Juli/Agustus akan mengikuti
Ujian di bulan Oktober/Nopember (Ujian Gelombang II)

Jika jawaban di atas masih kurang jelas, silahkan bertanya langsung ke
Ibu Nur Telp.08161404440

Untuk versi html klik http://paketc.risteknusantara.com

23 SAYA BERSEKOLAH DI SEKOLAH INTERNASIONAL DAN INGIN MENGIKUTI PAKET
C SETARA SMA UNTUK MENDAPATKAN IJAZAH NASIONAL. BAGAIMANA CARANYA?
- Caranya adalah membawa fotocopy raport terakhir. Hubungi dan
serahkan kepada Ibu Nur di 08161404440. Ada beberapa tahapan yang
harus diurus untuk siswa paket C yang berasal dari sekolah
internasional. Hubungi kami untuk detailnya dan kami akan menguruskan
semuanya untuk anda.

24 SAYA LULUSAN SEKOLAH DI LUAR NEGERI DAN AKAN KULIAH DI INDONESIA.
KENAPA IJAZAH SMA ASAL LUAR NEGERI YANG SAYA MILIKI TIDAK DIAKUI DI
INDONESIA DAN BAGAIMANA CARA SAYA MENGURUSNYA AGAR SAYA BISA KULIAH
DI INDONESIA?
- Ijazah SMA asal luar Negeri harus disetarakan dulu dan dinilai oleh
suatu tim penilai. Setelah melalui penilaian akan diberikan surat
penyetaraan yang memungkinkan ijazah anda disetarakan dengan ijazah
SMA dan anda harus mengikuti ujian kesetaraan Paket C di tempat yang
ditentukan (Ristek Nusantara). Hubungi ibu Nur di telp.08161404440
dan kami dapat mengurusnya untuk anda.

25 SAYA SEKOLAH DI LUAR NEGERI TAPI TIDAK SELESAI/TIDAK TAMAT.
SEKARANG SAYA SUDAH ADA DI INDONESIA DAN INGIN MELANJUTKAN PENDIDIKAN
SAYA HINGGA SELESAI, BOLEHKAH SAYA MENDAFTAR PAKET C SETARA SMA UNTUK
MENDAPATKAN IJAZAH NASIONAL UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN SAYA?
- Boleh, serahkan fotocopy Raport terakhir kepada ibu Nur
telp.08161404440 dan kami akan mengurus sekolah Paket C setara SMA
untuk anda.

--
*Hubungi saya (Ibu Nur) di Telp. 08161404440 atau 02193088375 untuk
keterangan lebih lengkap. Kami tunggu telepon anda.*

* Informasi lengkap ke email: paketc@gmail.com . *
* Kunjungi website kami :
http://paketc.risteknusantara.com
http://kejarpaketc.com
http://paketc.net


--
*Hubungi saya (Ibu Nur) di Telp. 08161404440 atau 02193088375 untuk
keterangan lebih lengkap. Kami tunggu telepon anda.*

Sabtu, 22 Oktober 2011

Paket C @ Ging... Re: [jurnalisme] Save UI: Studi Kasus Verifikasi Jurnalistik

 

Seperti yang saya duga, Akmal terlalu tinggi meletakkan Farid dan Ade dalam benaknya. Mungkin ini sindrom pemuja yang akhirnya kecewa. Pintar saja memang tidak cukup untuk membuat sebuah perubahan yang besar. (Saya jadi ingat Dahlan Iskan yang mengaku bodoh dan hanya lulusan madrasah tapi mampu membuat para lulusan universitas terbaik tersipu-sipu malu melihat gebrakannya). Tapi, ah... mengapa pula saya harus menyampaikan hal ini kepada Akmal. :)
Saya cuma mau bilang : Now you see, Akmal. Now you see...! :)
DW

--- In jurnalisme@yahoogroups.com, "Farid Gaban" <faridgaban@...> wrote:
>
> Ging,
>
> Terima kasih ulasannya.
>
> Salah satu risiko mengkritik adalah dikritik. Tapi, sayangnya, saya harus bilang, kritik Akmal itu ngawur.
>
> Akmal sangat gegabah membicarakan saya dalam kaitan dengan Majalah Madina dan website www.srimulyono.net.
>
> Di satu sisi, pernyataan Akmal itu benar adanya bahwa FAKTANYA saya tidak sehebat Goenawan Mohamad, Jacob Oetama atau Dahlan Iskan yang sukses membangun raksasa media.
>
> Tapi, saya kira, itu hanya benar jika saya memang ingin menjadi sehebat mereka. Saya sadar, di samping tak memiliki unsur-unsur kehebatan mereka, terus terang, saya memang tidak ingin seperti mereka.
>
> Sejak keluar dari Tempo, meninggalkan jabatan redaktur pelaksana, saya memang telah memutuskan untuk menjadi "gelandangan" (freelancer) dan tak tertarik membuat media atau bekerja di corporate media.
>
> Seperti yang saya buktikan belakangan, saya akhirnya memutuskan keluar dari orbit Jakarta, pulang kampung, ke tempat yang lebih sunyi dari seluruh ambisi karir jurnalistik atau impian membuat media.
>
> Di samping tetap menulis, saya ingin lebih menekuni bidang pertanian dan agroforestry, serta bersama istri berusaha mewujudkan mimpi membuat klinik kesehatan sederhana yang berorientasi sosial.
>
> Berkaitan dengan Madina, saya tidak melamar dan tidak mencari-cari investor. Saya diundang untuk membantu men-setup sebuah majalah. Saya menerima tawaran itu karena pengundangnya adalah teman-teman saya yang aktif di Yayasan Paramadina, antara lain Ihsan Ali Fauzi dan Ade Armando. Lebih dari itu, Paramadina adalah lembaga non-profit, yang didirikan Nurcholish Madjid, tokoh yang saya hormati. Saya tahu tak mungkin bisa kaya bekerja di situ.
>
> Semula hanya ingin menjadi konsultan, saya diminta menjadi pemimpin redaksi karena Ade Armando dinilai tercemar "isu poligami" dan tak bisa menduduki jabatan itu.
>
> Semula saya menolak. Saya bilang: Kenapa saya keluar dari Tempo jika hanya jabatan yang saya cari? Tapi, dengan terpaksa saya memenuhi permintaan itu hanya supaya rencana menerbitkan majalah bisa jalan.
>
> Meski saya merancang majalah ini hingga tingkat teknis, dari bussines-plan hingga basic layout (design), saya memang tidak menganggap Madina jalan hidup-mati. Itu sebabnya, saya cuma enam bulan memegang jabatan pemimpin redaksi. Waktu itu, saya sendiri sedang merencanakan impian pribadi yang kemudian saya wujudkan: keliling Indonesia bersepeda-motor.
>
> Meski hanya menjadi konsultan, saya kecewa bahwa majalah itu akhirnya mati. Manajemen Yayasan Paramadina memutuskan menghentikan pembiayaan majalah yang baru berumur satu tahun itu bahkan tanpa konsultasi dengan saya.
>
> Itu sudah saya prediksi. Berbeda dengan rencana bisnis yang saya usulkan, manajemen terlalu ambisius mematok oplah tinggi di awal, menggerus biaya, dan akhirnya megap-megap hanya dalam setahun saja. Saya bilang membangun majalah itu seperti lari maraton, bukan sprint.
>
> Akmal juga menyebut keterlibatan saya dalam website www.srimulyono.net. Lagi-lagi, ini juga bukan impian saya. Kredit untuk rancangan website ini ada pada Ahmad Suwandi (anggota milis ini). Baru belakangan, saya bersama antara lain Dandhy Dwi Laksono dan Hertasning Ichlas diminta terlibat ikut menulis.
>
> Saya suka idenya dan mendukung nada pemberontakannya: "Ekonomi terlalu penting untuk diserahkan hanya pada ekonom." Website ini dikerjakan sepenuhnya pro-bono dan harus kami akui, kami tidak cukup punya nafas untuk menghidupkannya di tengah kesibukan lain.
>
> Akmal benar, website itu gagal mungkin karena kurangnya motivasi dari, antara lain, saya sendiri. Tapi, saya memang tidak menganggapnya sebagai prioritas dibanding apa yang sedang dan akan saya lakukan di Wonosobo.
>
> Begitulah. Saya tidak pernah mengklaim ("larger than life") sehebat Goenawan Mohamad, Jacob Oetama atau Dahlan Iskan. Saya jauh tidak sempurna dari mereka.
>
> Tapi, apa relevansinya dengan perdebatan tentang Save UI dan kritik saya pada tulisan Rochman Achwan di Jakarta Post serta apresiasi saya pada tulisan Ben Anderson yang mengkritik elitisme akademisi?
>
> salam,
> fgaban
>
> --- In jurnalisme@yahoogroups.com, ging ginanjar <ging.ginanjar@> wrote:
> >
> > Akmal,
> >
> > Saya sempat mengira Anda tak akan menjawab sentilan soal motif membela rektor Gumilar. Terima kasih sudah menulis begitu panjang dengan ilustrasi yang juga panjang. Saya kagum dengan stamina ANda. Anda sangat mumpuni dalam bercerita. Mengagumkan -- Sirikit sudah kagum pada segala hal, sih, bahkan pada hal-hal yang belum Anda tunjukkan, hehe.
> >  
> > Tetapi Anda keliru besar mengenai beberapahal menyangkut saya. Pertama, saya sudah tidak di Jerman, tak juga di Indonesia. Setelah habis konrak 5 tahun saya di DW, kami hijrah ke Brusel. Di sini profesi utama saya adalah pengasuh anak kami --baru masuk usia 5 tahun. Diselingi sesekali meliput untuk Tempo atau DW. Serta sebuah media lain.
> >
> > Kesalahan Anda kedua, sangat fatal dan tak termaafkan: saya hampir tak bisa berbahasa Jerman. Bahasa Jerman saya cuma cukup untuk makan di Imbiss dan tanya arah jalan. Memang kacau: saya ak memanfaatkan masa tinggal saya di Jerman untuk hal yang begitu mendasar. Saya gemar pake dalih gampangan: dalam keseharian, anak saya dan ibunya berbahasa Prancis, saya dan anak saya berbahasa Indonesia, lingkungan kerja saya 90 persen berbahasa Indonesia, bekerja untuk radio berbahasa Indonesia, dengan bahan-bahan 90 persen Inggris dan Indonesia.  Anak saya --umur saat umur 3 tahun, berbahasa Jerman jauh lebih baik. Dia malah pernah mengejek saya. Di sebuah supermarket, usai saya ebat dengan kasir, dia berteriak, "Ging, bahasa Jerman kamu jelek sekali!," lalu ketawa ngakak. Untung dia mengatakannya dalam bahasa Indonesia.
> >
> > Saya, tinggal  5 tahun di Jerman, bahasa Jerman saya, nol. Anda kursus di Goethe bisa dapat sertifikat kemampuan berbahasa Jerman lanjut. Ini satu alasan lagi bagi Sirikit Syah untuk mengulang lagi pernyataannya, mengenai kecerdasan Anda. Sebaliknya mungkin dia akan mempertanyakan tingkat kecerdasan saya. Apa boleh buat.
> >
> > Nah, karena itu, menyesal saya tak akan mengajak bicara bahasa Jerman andaikan ketemu Gumilar. Juga kalau ketemu Anda, dan Tasning --yang juga bisa berbahasa Jerman. Tapi kalau sesama Indoensia atau Sunda, kan mending berbahasa Indonesia, atau Sunda. Bukan Jerman, atau Prancis atau Inggris. Kalau sekali waktu ketemu Hasan dan bilang arigato, ya bercanda saja. 
> >
> > Oke, maafkan omong kosong saya soal berbahasa. 
> >
> > Hal lain. Saya cukup terkesan dengan cerita pajang Anda soal Gumilar. 
> >
> > Saya berharap, Gumilar menang secara tak terduga di pemilihan Dekan waktu itu secara fair. Buka karena angin baru primordialisme, karena nama depan lawannya adalah Paulus. 
> >
> > Saya punya sejarah hitam penuh noda. Semasa SMA saya pernah terpengaruh bujukan halus guru yang saya kagumi, untuk mengganjal kemungkinan terpilihnya sahabat saya, Andrew Sukendar sebagai ketua OSIS, dan melakukan gerpol untuk memenangkan teman saya yang lain, inisial KADHR. Guru saya yang sangat berpengaruh dalam hidup saya itu pandai sekali membungkus kampanyenya  --maklum dia sastrawan-- dengan bilang kira-kira begini: Si KADHR itu akan mengusahakan mushala. Kalau Andrew yang terpilih, nanti jadinya gereja dong. Kebetulan si KADHR itu anak pengusaha material. Kamipun sukses menggagalkan terpilihnya Andrew, dan KADHR lah yang memberi nama mushala SMA kami itu, Bahrul Ulum. Bisa ya, ketua OSIS yang memberi nama mushala sekolah. Ingin saya ketemu Andrew dan minta maaf. edang dengan KADHR, saya sudah pernah ketemu lagi dua kali, beberapatahun sesudah kejatuhan Soeharto dulu. Dia sudah jadi politikus.
> >
> > Betapapun itu cerita hitam saya. Adapun Gumilar, saya berharap, dia menang Dekan bukan karena lawannya Paulus. Lagian masa pemilihan Dekan tahun 2002 dibandingkan dengan pemilihan Ketua OSIS sebuah SMA di tahun 1980.
> >
> > Gumilar, dari paparan ANda,  memang kuda hitam yang keren. Dia underdog juga di pemilihan rektor, apalagi dia dari humaniora, eh menang mutlak. Saya mestinya ikut bangga, sebagai sesama Sunda. Sebagaimana saya ikut bangga mengenai Ali Sadikin --kendati saya susah bangga, sebaliknya justru jengkel pada sesama Sunda Agum Gumelar, Yogie S Memet dan banyak lagi.
> >
> > Dan dari paparan Anda --juga artikel Rochwan-- mengenai gagasan-gagasan, visi, program mengenai UI, Gumilar sepertinya "sesuatu banget, ya. alhamdulillah".  Saya berharap Anda betul. Karena yang dipertaruhkan, luar biasa.
> >
> > Tapi hati kecil saya berbicara lain --ini kalimat klise ya. 
> > Saya tak tahu apa akan pernah bertemu Gumilar sebagaiman Anda andaikan. Namun saya pernah wawancara dia lewat telepon, sekali. Mungkin dua atau tiga tahun lalu. Terkait universitas sebagai badan usaha atau apa. Wah saya sudah lupa persisnya. Waktu itu, saya kecewa. Saya tidak terkesan pada Gumilar. Bukan sekadar tak terkesan pada gagasan dan argumentasi dia. Tetapi juga pada perumusan kalimatnya, tidak otentik, klise, tipikal pejabat, tidak mengesankan sebagai, misalnya pemikir.  Itu kesan saya waktu itu. Padahal, sekali lagi, saya wawancara dia dengan penuh harapan untuk berbangga sebagai Sunda. Untuk jadi penabuh yang baik untuk memperdengarkan keindahan suara gong Gumilar.
> >
> > Akmal, kalau Anda yang rektor UI, yang saya wawancarai waktu itu, hasilnya akan jauh berbeda, akan jauh lebih memuaskan, terlepas dari kenyataan kodrati bahwa Anda Padang dan bukan Sunda. 
> >
> > Mungkin agar gong Gumilar muncul kehebatan bunyinya, diperlukan penabuh seperti Anda.
> >
> > Betapapun, terlepas dari kisruh aktual UI dan pertentangan Anda dengan Ade, kesan lagsung saya dengan UI Satu itu, bukan kesan yang terlalu baik.
> >
> > Lalu muncul peristiwa penganugerahan gelar pada Firaun  Abdullah bin Abdul Aziz bin Saud. 
> > Tanpa perlu melakukan verifikasi dan investigasi hebat-hebat,  saya mengambil kesimpulan negatif secara serta merta. (Juga tanpa mengecek sebagaimana seruan berulang kali dari, lagi-lagi, Sirikit Syah, mengenai apakah ada tokoh UI dulu yang dukung penganugerahan gelar itu namun sekarang berteriak menuding Gumilar).
> >
> > Buat saya, penganugerahan gelar itu, sekali lagi, keliru besar. Bahkan jikapun tak ada peristiwa pemenggalan Ruyati beberapa hari sebelumnya. Karena nalar sangat awam susah menemukan kualitas sang baginda sebagaimana disebut dalam alasan penganugerahan. Menunjukkan adanya maksud tertentu pula: yang diberi gelar kok raja, dari negeri kaya pula, dan bukannya tokoh biasa dengan karya hebat.
> >
> > Lalu muncul Save UI dan debat Ade Armando (dengan pendukung langsung Farid Gaban dan Tasning) lawan  Akmal Nasery Basral (dengan pendukung langsung --dengan caranya sendiri Sirikit-- dll  dan pendukung tak langsung Kang Hasan di milis sini, yang berkembang sengit, diwarnai adu doa dan ayat. 
> >
> > Saya, serta merta, tanpa perlu melihat dokumen ini itu, menjadi pendukung tak langsung Ade Armando --terlepas dari cara dia berargumentasi yang menimbulkan kepedihan luar biasa bagi Sirikit Syah.
> >  
> > Kemudian muncul beberapa data lain dari Ade Armando. Dan data tandingan dari Anda.
> > Namun penganugerahan gelar doktor kepada raja Arab Saudi itu suatu fakta keras yang tak tergoyahkan. Bisa saja itu putusan bukan pribadi rekor Gumilar. Namun kalau Gumilar seorang yang "spesial punya", penuh visi, penuh gagasan, penuh integritas, penuh kepribadian, otentik dsb, dia akan menolak memberikan gelar itu --bahkan kendati dia ditekan oleh majelis wali ini itu. 
> >
> > Jadi saya agak susah memahami, mengapa Anda, Akmal, begitu bersemangat "mendudukan prsoaln pada proporsinya" ihawal kemelut UI ini. Pembelaan Anda begitu habis-habisan pada rektor UI, sampai debat Anda dengan Ade Tasning Farid begitu kasar --terlepas siapa yang mulai. Juga melibatkan serangan-serangan pribadi. Seperti serangan Anda pada Ade Farid soal Madina. Ini serangan yang tak saya pahami --kendati Anda memapar pembenarannya pada sentilan Ben Anderson mngenai veto group Islam. Ini serangan yang saya gagal melihat relevansinya dalam perdebatan, kecuali sebagai serangan pribadi, untuk mendelegitimasi dan mendekredibilitisasi (ini kata yang betul atau nggak, ya) lawan debat. Padahal tanpa itu, Anda punya data tandingan  sendiri yang kuat, punya argumentasi sendiri yang kuat, mendapat dukungan intektual yan keren dan kuat juga dari Kang Hasan. 
> > Jadi, sekali lagi, pertanyaan saya, bisa sampai begitu bersemangatnya Akmal membela Gumilar, dengan risiko kehilangan teman (meledek Tasning kacung Ade. Saya sendiri, iya sih, meledek Sirikit).
> >
> > Sejauh ini, Anda tidak menjawab langsung pertanyaan itu. Anda memberi ilustrasi panjang, taapi tak menjawab langsung. Mungkin tak apa. Ade Armando pun tak menajwab langsung, ketika Anda tanya, apakah benar Ade melakukan semua itu karena dia jadi jurkam ntuk calon rektor ini itu.
> >
> > Saya tempo hari bilang, saya pernah secara spontan membela Mulyana Kusumah, seorang yang kendati bukan teman dekat banget, namun saya kenal sangat baik, dan saya percaya integritasnya. Saya tahu dia kacau administrasinya, sering kasih dana pada aktivis yang perlu logistik untuk demo di zaman Soeharto, dari pos "non litigasi" YLBHI. Namun tanpa kepentingan pribadi. Jadi saya pernah yakin sekali, bahwa Mulyana, saat ditangkap KPK untuk kasus KPU, hanya menjadi korban. Pembelaan saya pada Mulyana waktu itu adalah karena saya kenal dia pribadi, dan percaya. Sampai saya telepon Asamra Nababan, Teten Masduki, dan banyak teman lain. Ternyata kenyataannya lain.
> >
> > Tentang pembelaan Anda pada Gumilar, mungkin data-data hasil verifikasi Anda, justru memperkuat sikap Anda. Makin membuat Anda yakin dalam membela Gumilar. 
> >
> > Mungkin Anda mengambil risiko mengorbankan pertemanan dengan Ade Armando dengan kacungnya, Hertasning Ichlas dan wartawan yang ANda seranga habis, Farid Gaban, sekadar untuk memenuhi pangilan otentik seorang manusia biasa: menegakkan kebenaran. Mungkin ihtiar soal kebenaran memang sangat mahal ongkosnya. Bahkan ketika kita tak punya kepentingan apapun.
> >
> > Sekarang saya berharap, Gumilar buka mulut. Menjawab tudingan Ade, mungkin menggugat balik kalau ternyata Ade dkk sekadar melancarkan fitnah. Gumilar tak semestinya membiarkan Anda pasang badan sendirian jadi sasaran serangan. Kalau Rochwan kan mending, sekali nulis, sudah. Anda kan lain: nulis, jawab, nulis, jawab. Bahkan bantu orang untuk menyarkan tulisan di sini, dan bantu menjelaskan. Kerja keras yang saya tak bayangkan akan saya lakukan jika saya dalam posisi Anda. Risikonya, memang berat, tak mendapat penggemar istimewa dari Surabaya. Haha.
> >
> > Ngomong-ngomong Akmal, dulu ketika saya bekerja di KBR68H, puluhan kali saya mengundang Anda jadi narasumber "Layar", diskusi film yang saya tangani bersama Rayya Makarim. Beberapa kali Anda sudah oke, tapi batal melulu. Saya jadi agak dendam nih. 
> >
> >
> > Ging
> >
> >
> > >________________________________
> > >From: aulia reksoatmodjo <aulia_kpai@>
> > >
> > >
> > > --- On Thu, 10/20/11, Akmal N. Basral <akmal.n.basral@> wrote:
> > >
> > >From: Akmal N. Basral <akmal.n.basral@>
> > >Subject: @ Ging... Re: [jurnalisme] Save UI: Studi Kasus Verifikasi Jurnalistik
> > >To: jurnalisme@yahoogroups.com
> > >Date: Thursday, October 20, 2011, 9:01 PM
> > >
> > >dear Ging nan jauah di mato,
> > >saya utang jawaban pada 2 kali pertanyaan anda ya: apa motivasi saya membela
> > >Gumilar yang sahabat bukan, saya kerja di UI tidak, dst, dst... (Koreksi
> > >kalau pertanyaan saya salah).
> > >
> > >Jadi, begini Ging. Saya masuk UI tahun 1986 (tahun terakhir di Rawamangun).
> > >Gumilar angkatan '82, dan Ade Armando di atas lagi, angkatan '80. Saya dan
> > >Gumilar satu jurusan di Sosiologi, Ade Armando di Komunikasi. Meski begitu
> > >Ging, dengan Ade Armando saya lebih dekat. Pertama, Ade orangnya kocak,
> > >gampang bergaul. Gumilar, sebagai asdos, dulu itu kaku banget. Senyumnya
> > >jarang.
> > >
> > >Lalu tahun 1988, pada bulan puasa, saya dan istri saya (dulu masih calon
> > >istri) buka puasa di rumah Ade dan mbak Nina, masih yang di Depok. Bukan
> > >hanya kami berdua, tapi banyak mahasiswa baru. Maklum, seperti sudah saya
> > >bilang, Ade banyak senyum, dosen favorit. Gumilar? Sampai saat itu saya
> > >nggak tahu di mana rumahnya, apalagi dia sudah kawin atau belum. Dan kalau
> > >pun sudah kawin, siapa istrinya saya nggak tahu.
> > >
> > >Lalu di awal 90-an, Gumilar "menghilang" dari kampus. Saya dengar sempat
> > >menjadi peneliti tamu di Groningen beberapa bulan, lalu langsung "tancap
> > >gas" ikut S3 di Bielefeld Universitaet, negerimu sekarang. Dia, saya dengar
> > >tak ikut S2, sehingga namanya tak ada gelar S2.  Bielefeld itu impian
> > >anak-anak Sosiologi yang mau belajar di Eropa, jauh lebih prestisius dari
> > >Sorbonne atau Notre Dame. Saya juga dulu pengen sekali ke Bielefeld, sampai
> > >menjelang lulus, saya pasang strategi berbeda: kursus bahasa Jerman dulu di
> > >Deustche Schule/Goethe Haus, Menteng.
> > >
> > >Eh, ternyata, entah pengajarnya pada baik hati pada saya, atau mereka waktu
> > >meriksa ujian saya mata mereka "ditebalikin setan", tiba-tiba saya sudah
> > >mendapat ZDaF (*Zertifikat Deutsch als Fremdsprache*) yang anda tahu seperti
> > >TOEFL dalam bahasa Inggris (Saya lupa berapa skor saya waktu itu, tapi yang
> > >jelas kalau saya langsung kuliah di Jerman, tidak perlu ikut Studkol lagi).
> > >Lalu ketika r*eader *skripsi saya (Saya punya dua orang *reader*. Pertama,
> > >seorang Profesor Sosiologi dari Universitas Andalas, ternyata koordinator
> > >beasiswa untuk Eropa, kedua sastrawan "sadis tapi baik hati" Ali Akbar
> > >Navis, penulis cerpen *Robohnya Surau Kami*). Sang Profesor Sosiologi Unand,
> > >setelah tahu saya sudah punya ZDaF, langsung dia duluan yang kepincut dan
> > >menawarkan saya beasiswa ke Jerman. "Bisa ke Bielefeld?" tanya saya, yang
> > >waktu itu sudah mulai sounding soal kampus ini.
> > >
> > >"Saya rasa bisa," jawab Sang Profesor. "Tapi syaratnya satu."
> > >
> > >"Apa, Prof?" tanya saya.
> > >
> > >"Ngajar dulu di Unand, 4-5tahun. Nanti saya kirim sebagai staf Unand."
> > >
> > >Wah, semangat saya langsung ngacir ke Gunung Singgalang. "Yah kok gitu Prof.
> > >Orang-orang Padang saja pada ke Jakarta, masak saya sudah di Jakarta, balik
> > >lagi ke Padang?"
> > >
> > >Singkat cerita, tawaran emas (mungkin sekali seumur hidup itu) gagal
> > >berjodoh. Dan saya dengar di kampus, masih belum banyak yang lanjut ke
> > >Bielefeld. Dengan Gumilar? Sama sekali nggak ada kontak.
> > >
> > >Setelah lulus, karena kebodohan saya menolak beasiswa di depan mata, saya
> > >menjadi buruh pacul, Ging. Sesekali saya masih ketemu Ade Armando, entah
> > >saat saya sedang ke kampus (yang sangat jarang), atau biasanya di tempat
> > >lain. Dengan Gumilar? Tetap tidak pernah.
> > >
> > >Lalu datanglah tahun 2001, yang diceritakan Teguh Usis bahwa dia dengan Ade
> > >Armando dan Gumilar, makan sambil ketawa-ketiwi haha-hihi di Balsem (Balik
> > >Semak) Fisip UI. Saya percaya cerita Teguh itu, meski Ade menyebutnya
> > >sebagai aib. Tetapi sampai di sini Ging, kita belum masuk ke inti cerita.
> > >Ini baru pengantarnya saja.
> > >
> > >Cerita baru menarik setelah pada 2002, Gumilar mencalonkan diri jadi Dekan
> > >FISIP UI. Meminjam bahasa Iwan Sams, ini dosen muda "kurang ajar" sekali.
> > >Sudahlah belum pernah jadi ketua Jurusan/Departemen Sosiologi, eh kok mau
> > >tarung langsung dengan seorang Profesor Sosiologi yang sudah beken di
> > >koran-koran saat itu, Prof. Paulus Wirutomo. Nah, Ade Armando jadi Campaign
> > >Manager bagi Mas Paulus, panggilan kami bagi Prof. Paulus. (Saat itu, saya
> > >sudah beberapa kali ke rumah mas Paulus, baik yang di kompleks DPR Kalibata,
> > >mau pun yang di kawasan Jakpus. Bahkan pernah kami nge-jam, saya main gitar,
> > >mas Paulus ngedrum. Mas Paulus memang musisi band UI, *The Professors*).
> > >Kenapa saya masih ketemu mas Paulus? Karena beliau juga ahli Sosiologi
> > >Perkotaan, dan layak jadi narasumber.
> > >
> > >Dengan Gumilar? Tetap saja tak pernah ketemu.
> > >
> > >Jadi Ging, sudah dua "perkecualian" dilakukan Gumilar, yang saya dengar.
> > >Satu, dari S1 langsung S3, yang kedua, hanya dari dosen biasa langsung
> > >mencalonkan jadi Dekan FISIP.
> > >
> > >Konon waktu itu jurusan Sosiologi bingung luar biasa. Sebagian besar
> > >menyarankan agar ada "urut kacang". Kasih kesempatan kepada yang lebih
> > >senior. Dari seorang dosen Fak Teknik (yang jauh lebih senior dari saya),
> > >saya dengar Ade Armando sempat berseloroh kepada Gumilar. "Udah deh Gum,
> > >mundur aja. Lu nggak mungkin menang!"
> > >
> > >Harus saya akui Ging, omongan Ade, dari sini nalar sepenuhnya benar. Mas
> > >Paulus itu populer sekali, selain pernah jadi Ketua Jurusan. Jadi modalnya
> > >komplit. Dari sisi popularitas, Gumilar jelas kalah jauh. Nah, karena ada
> > >calon ketiga dari Jurusan Sosiologi, prediksi bertebaran. Dekan terpilih
> > >pasti mas Paulus, yang kedua dari Jurusan lain itu, dan Gumilar akan paling
> > >buncit.
> > >
> > >Sikap bijak diambil Ketua Departemen Sosiologi saat itu, Dr. Iwan Gardono
> > >Sudjatmiko. Katanya, "Ya sudah, dua-duanya maju saja. *Let the best win*!"
> > >
> > >Dan ternyata Tuhan berkehendak lain. Gumilar menang. Mas Paulus di posisi
> > >kedua, dan calon dari jurusan lain justru paling buncit.
> > >Sampai saat itu, saya belum pernah bertemu lagi dengan Gumilar. Masih tak
> > >tahu di mana rumahnya (belakangan saya tahu dia nyicil rumah di Perumnas
> > >Bogor, tipe 54. Awalnya dia mau ambil tipe 36, tapi seorang saudaranya yang
> > >ngantar ke Perumnas nyeleletuk. "Idih kang Gum, bikin malu UI *pisan*. Masak
> > >doktor UI, dari Jerman, ambil rumah tipe 36? Ambil yang tipe 54 *atuh*!"
> > >
> > >Balik pasca pemilihan Dekan, Mas Paulus yang baik hati dan bijak itu, tetap
> > >saja dengan kebiasaannya* ngelawak*. Rukun banget dengan Gumilar. Mas
> > >Paulus, menurut info kawan-kawan saya saat itu, siap betul dalam kompetisi:
> > >siap menang, juga siap kalah.
> > >Tapi apakah anggota tim Mas Paulus yang lain juga punya tingkat kelegowoan
> > >seperti beliau, Ging?
> > >
> > >Jadi, ringkasnya: kesaksian Teguh Usis di tahun 2001 itu yang pernah makan
> > >bertiga dengan Gumilar dan Ade Armando, sudah pasti benar-benar benar.
> > >(Masak kita mau "tuduh" lagi Teguh Usis menulis kesaksian itu karena
> > >"dibayar Gumilar"? hahaha....)
> > >
> > >Begitulah Ging. Saya rasa anda sudah bisa menebak bagaimana akhir cerita
> > >ini. Dan nanti kalau anda sudah kembali ke Indonesia (atau sudah?), kalau
> > >ketemu Gumilar jangan cuma ajak *basa Sunda*. Ajak dia ber-*Deutsche
> > >Sprechen* pasti asoi.
> > >
> > >Dan mesti cerita ini ditulis sama sekali nggak seserius saya "membaca" Ben
> > >Anderson, percayalah saya nggak sedang ngeledek Anda, seperti Anda sedang
> > >ngeledek Sirikit (Duh, kalau kita bisa ngobrol di milis sesantai ini, enak
> > >sekali semuanya 'kan Ging?)
> > >
> > >Salam,
> > >
> > >ANB
> > >
> > >2011/10/20 ging ginanjar <ging.ginanjar@>
> > >
> > >> **
> > >>
> > >>
> > >> Akmal, saya belum akan masuk ke topik inti debat (tak tahu apa akan). Tapi
> > >> untuk sementara, saya ingin mengucapkan selamat terlebih dahulu, bahwa Anda
> > >> sudah menjadi idola sempurna Sirikit Syah. Dia punya stok segala jenis
> > >> pujian untuk Anda.
> > >> Apa sih rahasianya?
> > >> Ya oke deh, ini ledekan. Haha.
> > >>
> > >>
> > >> Ging
> > >>
> > >> >________________________________
> > >> >From: "sirikitsyah@" <sirikitsyah@>
> > >> >To: "jurnalisme@yahoogroups.com" <jurnalisme@yahoogroups.com>
> > >> >Sent: Thursday, October 20, 2011 1:19 PM
> > >>
> > >> >Subject: Re: [jurnalisme] Save UI: Studi Kasus Verifikasi Jurnalistik
> > >> >
> > >> >Hahaha, Akmal selain cerdas bisa lucu luar biasa
> > >> >
> > >> >Apalagi waktu pakai kata2 tolol n pandir dlm huruf besar:).
> > >> >
> > >> >Ss
> > >> >
> > >> >Powered by Telkomsel BlackBerry®
> > >> >
> > >> >-----Original Message-----
> > >> >From: "Akmal N. Basral" <akmal.n.basral@>
> > >> >Sender: jurnalisme@yahoogroups.com
> > >> >Date: Thu, 20 Oct 2011 16:52:53
> > >> >To: <jurnalisme@yahoogroups.com>
> > >> >Reply-To: jurnalisme@yahoogroups.com
> > >> >Subject: Re: [jurnalisme] Save UI: Studi Kasus Verifikasi Jurnalistik
> > >> >
> > >> >1/
> > >> >
> > >> >Mohon maaf karena saya baru sempat menanggapi posting FG ini (seperti juga
> > >> >tentang teks Ben Anderson), akibat beberapa tumpukan pekerjaan beberapa
> > >> hari
> > >> >terakhir.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >2/
> > >> >
> > >> >Jangankan hanya tiga tahap (3) yang digunakan FG untuk melakukan apa yang
> > >> >disebutnya sebagai "langkah verifikasi" ini , mau melakukan sampai 10-20
> > >> >"langkah verifikasi"
> > >> >pun tetap tak menghapus jejak betapa biasnya FG sebagai moderator milis
> > >> >(seperti sudah saya bandingkan dengan cara Teguh Usis membuat kesimpulan
> > >> >perdebatan)
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Karena FG emosional, yang dilihatnya bukan lagi 6 butir pernyataannya yang
> > >> >saya pertanyakan. FG bahkan sempat menganggap itu sebagai* **personal
> > >> >attack. *Apanya yang personal? Mau anda punya *margin of error 20 %* atau
> > >> >sepenuhnya di pihak Ade, itu pilihan anda yang tetap saya hormati. Tetapi
> > >> >anda sebagai "juragan" milis ini, harus kasih *disclaimer *dulu dong: buat
> > >> >sementara saya non-aktif sebagai moderator. Itu baru *fair.*
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Untung saja, anggota milis ini para terpelajar. Kalau sikap
> > >> >"moderator-partisan" yang diterapkan FG itu dilakukannya juga saat menjadi
> > >> >wasit sepakbola turnamen tarkam (antarkampung) di lereng gunung entahlah,
> > >> >bisa-bisa FG kapok sebagai wasit bola seumur hidup.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >3/
> > >> >
> > >> >Syukurlah FG sudah sampai pada kesadaran baru bahwa saya tak perlu
> > >> >memverifikasi semua tuduhan dokumen Save UI, karena memang itu bukan
> > >> tugas
> > >> >saya. (Meski karena "kegenitan natural" FG, yang saling mempengaruhi
> > >> dengan
> > >> >Ade Armando, masih juga menyentil saya soal gelar Doktor HC dari UI bagi
> > >> >Isidro Aguillo).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >*Bujubuneng!*
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >4/
> > >> >
> > >> >Seharusnya FG (juga Ade Armando) sadar akan fakta sederhana ini: Dokumen
> > >> >Save UI, dan pernyataan Ade Armando di milis Jurnalisme ini, adalah dua
> > >> >entitas yang berbeda meski saling bertautan, bahkan saling menguatkan.
> > >> >(Khususnya Ade Armando sebagai penyuara dokumen Save UI yang paling
> > >> vokal).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Dalam konteks ini, pertanyaan-pertanyaan kritis saya sebelumnya harus
> > >> >ditempatkan sebagai bagian dari kritik saya terhadap tudingan-tudingan Ade
> > >> >Armando di MILIS INI.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Kenapa? Karena kalau saya mau, saya bisa melakukan posting paralel,
> > >> misalnya
> > >> >dengan menempatkan kritik saya di *wall* facebook Ade Armando. Tapi
> > >> >kantidak pernah. Sekali pun tidak. Lain dari itu, biarlah butir-butir
> > >> >dokumen
> > >> >Save UI dijawab sendiri oleh Otoritas/Rektorat UI.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >5/
> > >> >
> > >> >Akmal hanya membicarakan dua kasus: bulevar dan doktor HC. dalam soal
> > >> >bulevar pun hanya soal paranormal, kata FG.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Aduh, "eyang" FG, baca lagi deh, soal bulevar dan kaitannya dengan
> > >> perubuhan
> > >> >gedung-gedung yang dilansir Ade, dan soal denda/*commitment fee* Rp 1 M
> > >> yang
> > >> >sudah saya kutipkan dari Prof Emir dan  Dr. Hengky.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Tetapi bahkan "dua kasus" itu pun sudah terlalu banyak, karena sebetulnya
> > >> >cukup hanya soal 'poros paranormal' UI-Monas/Istana Presiden ini, tudingan
> > >> >Ade Armando di milis ini, sudah berantakan sampai ke basis fondasi.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Demi FG yang sudah berjuang menyusun justifikasi "3 Langkah Verifikasi",
> > >> >saya akan ulang lagi versi singkatnya dalam poin 6 di bawah ini.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >6/
> > >> >
> > >> >Sekarang anggap dulu saya bukan "lawan" anda, apalagi sebagai “Jubir
> > >> Rektorâ€
> > >> >seperti yang dipercayai Ade Armando.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Anggap saja saya seorang kawan yang sudah melihat Master Plan UI (dan
> > >> memang
> > >> >sudah saya lihat dengan mata kepala sendiri), dan kini akan mereportase
> > >> apa
> > >> >yang saya lihat bagi majelis milis sekalian:
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >6.1. Bayangkan sebuah peta Jakarta ukuran kecil, dalam versi Google Earth.
> > >> >Laut Jawa terlihat di Utara.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >6.2. Ada dua kotak merah (sekitar 2x2 cm) yang berjarak vertikal sekitar
> > >> 3-4
> > >> >cm.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >6.3. Kotak merah paling atas, ada tulisan “MONAS†. Kotak merah di bawahnya
> > >> >ada tulisan “UI†. Di antara kedua kotak itu ada garis merah. Artinya,
> > >> kedua
> > >> >kotak merah, terhubung oleh garis merah.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Inikah yang dimaksudkan Ade sebagai “poros paranormal UI-Monas†?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Kalau iya, mari kita lanjutkan dengan memperhatikan lebih cermat kotak
> > >> merah
> > >> >kedua (kotak UI).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >6.4. Bayangkan “kotak UI†itu sebagai jam dinding bujursangkar. Di mana
> > >> >angka imajiner “12†ada di bagian atas, dan angka imajiner “6†ada di
> > >> bagian
> > >> >bawah, seperti lazimnya jam dinding di mana pun di seluruh dunia.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >6.5. Jika sudah, bayangkan sedikit di bawah angka “12†(artinya bagian
> > >> atas
> > >> >kotak merah), ada ujung peta UI, gerbang yang sekarang. Siapa pun yang
> > >> >pernah masuk ke UI sekali saja dalam hidupnya, dari arah Pasar Minggu,
> > >> maka
> > >> >gerbang itulah yang berada di dekat angka “12†, bagian atas kotak.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Peta UI terus turun dalam bentuk asimetris mendekati angka “6†di bagian
> > >> >bawah jam imajiner ini. Di dekat angka “6†inilah, bapak-ibu anggota
> > >> majelis
> > >> >milis yang terhormat, akan dibuat bulevar baru yang akan berhadapan
> > >> langsung
> > >> >dengan jalan tol Cinere-Cimanggis (Cijago).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Jadi jika gerbang lama yang menghadap ke Utara (di atasnya lagi ada Kotak
> > >> >Monas), maka calon bulevar ini menghadap ke Selatan, yang dalam topografi
> > >> >menghadap ke Gunung Salak.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Apakah penggambaran saya sudah cukup visual, FG? Seharusnya sudah, kecuali
> > >> >kalau anda ingin terus mengajak saya berdebat mencari ketiak ular.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >7/
> > >> >
> > >> >Apa implikasi dengan Master Plan sejelas itu, dan semudah itu untuk
> > >> dilihat?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >7.1. Jika kesalahan tafsir, pembacaan peta, dilakukan oleh para calon
> > >> >reporter (mohon maaf kepada calon reporter sungguhan di milis ini), saya
> > >> >kira hal ini masih bisa diterima.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >7.2. Tapi jika untuk membaca PETA SEDERHANA itu saja TAK BISA DILAKUKAN
> > >> oleh
> > >> >Dr. Ade Armando, Msc. (Bahkan setelah saya informasikan pekan lalu,
> > >> silakan
> > >> >Ade hubungi Prof. Emir, saya kira ego gigantik Ade tak akan mengizinkannya
> > >> >bersikap obyektif dan verifikatif), apalagi yang bisa diharapkan, Farid?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >7.3. Seandainya anda bilang soal poros paranormal ini “soal kecil†dalam
> > >> >timbunan bukti tudingan korupsi ini-itu, wah, anda keliru sekali, juragan.
> > >> >
> > >> >Sebab “tudingan paranormal-bin-konon†itu, seperti bisa anda baca pada
> > >> >dokumen Save UI (versi awal), dan terutama yang disuarakan dengan gencar
> > >> Ade
> > >> >Armando di milis ini, ada pedang dengan dua sisi, yang pertama untuk
> > >> menusuk
> > >> >Rektor sebagai penganut mistik, dan kedua menusuk Rektor sebagai orang
> > >> yang
> > >> >berambisi menjadi Presiden.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Sebetulnya, dalam konteks HAM, pilihan orang untuk percaya mistik dan
> > >> >terobsesi menjadi presiden pun tak ada salahnya, bukan? Apanya yang
> > >> keliru?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Tapi kesalahan fatal, dan luar biasa TOLOL dan PANDIR TAK TERKIRA di sini
> > >> >(Astaga, ternyata nikmat sekali menggunakan kata makian favorit Ade
> > >> Armando
> > >> >rupanya), adalah karena Ade ENGGAN melihat peta Master Plan UI, dan cukup
> > >> >puas sebagai mikropon penyuara Tuan Guru Besar kampus seberang.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Sekarang, katakan dengan sejujurnya Farid Gaban, kalau perlu dengan
> > >> >bersumpah atas nama orang tua anda (jika mereka sudah meninggal dunia),
> > >> >masihkah hal seperti ini menjadi “masalah kecil†untuk tuduhan yang
> > >> sebegitu
> > >> >keji?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Katakan dengan jujur Farid, dengan meletakkan seluruh reputasi anda
> > >> sebagai
> > >> >wartawan senior yang selalu menganjurkan orang lain untuk melakukan
> > >> >verifikasi terhadap apa yang mereka lihat-dengar-baca?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Beranikah anda, di milis ini, dengan terus terang seperti anda membuat
> > >> >kesimpulan bias 6 poin terdahulu, bertanya kepada Ade, cukup satu
> > >> pertanyaan
> > >> >mudah saja: “De, *elu beneran udah lihat* Master Plan UI?â€
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >(*Gosh! Can’t believe it, I have to teach the legendary FG how to ask a
> > >> very
> > >> >simple question to his beloved friend-cum-confidante for years!).*
> > >> >
> > >> >* *
> > >> >
> > >> >Tanyakan itu ke Ade dengan formulasi kalimat Anda sendiri, FG. Dan Ade,
> > >> >bersumpahlah juga dengan almarhum orang tua anda (jika mereka sudah
> > >> >meninggal) akan menjawab pertanyaan Farid dengan jawaban seorang
> > >> gentleman,
> > >> >“Ya, saya sudah melihat†atau “Belum, saya belum melihat†, bukan hanya
> > >> >dengan jawaban pengecut seperti anda demonstrasikan tempo hari, “Itu
> > >> >disebutkan Gumilar sendiri kepada Prof. Amalsjaf dan Prof. Akmal Taher†.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Ade, Ade … anak-anak kecil saja yang belajar ngaji di kampung-kampung
> > >> selalu
> > >> >diajarkan, “Jangan pernah percaya bulat-bulat pada guru ngaji anda.†Nanti
> > >> >giliran ditanya malaikat,  “Siapa yang bilang begitu?â€
> > >> >
> > >> >    “Guru mengaji saya Kat (dari malaikat) Saya percaya 100% pada guru
> > >> >saya! Tak mungkin dia mencelakakan saya!â€
> > >> >
> > >> >  “Siapa bilang?†jawab malaikat sudah tak lagi tersenyum. “Itu namanya
> > >> >taklid, tolol! Itu namanya fanatik, kau pandir tak terkira! Bukankah kau
> > >> >sudah diberikan akal oleh Tuhan untuk tidak membebek saja segala kata
> > >> >orang?â€
> > >> >
> > >> >    “Eh, iya malaikat. Sorry ya. Bisa nggak sekarang saya balik ke bumi,
> > >> >buat ngecek ulang, dan menerapkan pelajaran yang diberikan guru saya yang
> > >> >lain, guru jurnalistik yang bilang segala sesuatu harus diverifikasi dulu
> > >> >sebelum harus dipercayai.â€
> > >> >
> > >> >    “Dasar kau ini memang tolol bin pandir. Sebelum kau belajar
> > >> >jurnalistik, kau belajar apa dulu?â€
> > >> >
> > >> >    “Ngaji, Kat.â€
> > >> >
> > >> >    “Apa kata guru ngajimu?â€
> > >> >
> > >> >    “Katanya, kalau orang-orang beriman mendengarkan sebuah kabar, harus
> > >> >mengecek dulu kebenaran kabar itu. Tidak boleh langsung menyampaikan
> > >> kepada
> > >> >orang lain.â€
> > >> >
> > >> >    “Betul. Itu namanya *tabayyun*.â€
> > >> >
> > >> >    “Tapi ‘kan?†Si murid tengil masih melawan. “*Tabayyun* ‘kan beda
> > >> >dengan verifikasi, Kat?â€
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >8/
> > >> >
> > >> >FG juga mendasarkan “keabsahan 3 langkah verifikasinya†dengan menyebut
> > >> >barisan nama tokoh penting di belakang Save UI.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Farid, Farid … anda naïf sekali ternyata. Bisakah anda memahami konstelasi
> > >> >kekuasaan di PBB dengan mengabaikan dominasi AS sejak PBB berdiri? Bisakah
> > >> >anda memahami percaturan di Eropa dan gonjang-ganjing di sana dengan
> > >> >melupakan Inggris, atau Jerman, atau Prancis?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Saya yakin, anda sudah cukup cerdas, bahwa dalam konstelasi UI, FISIP
> > >> adalah
> > >> >“Latvia†, adalah “Azerbaijan†, adalah *whatever peripheral states in the
> > >> >region you want to name it*!
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >UI pun begitu Farid. Itulah realitas politik, seperti sulitnya orang-orang
> > >> >non-Jawa menjadi Presiden Indonesia (kecuali Habibie yang “ketiban duren†,
> > >> >coba kalau dia lewat pemilu, pasti juga kandas di putaran pertama).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >UI adalah wilayah di mana hegemoni secara tradisional dipegang hanya oleh
> > >> >dua fakultas yang anda tahu sendirilah. Apakah itu hal yang salah? Tak
> > >> bisa
> > >> >dijawab semudah membalik telapak tangan karena realitas politiknya memang
> > >> >begitu.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Bukti paling gamblang adalah dari sejarah Rektor UI sendiri. Dari begitu
> > >> >panjang sejarah UI, berapa orang Rektor yang berasal dari rumpun ilmu
> > >> sosial
> > >> >dan humaniora, Farid?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Cuma 3!
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Pertama, Soemantri Brodjonegoro, lalu Nugroho Notosusanto, dan lebih dari
> > >> >dua dekade kemudian baru ada nama lagi dari rumpun IPS ini: Gumilar
> > >> Rusliwa
> > >> >Somantri.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Apakah anda pikir para guru besar dari rumpun IPS dan humaniora ini
> > >> >sebelumnya tidak ada yang cocok dan pantas untuk menjadi Rektor UI?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Itu mengapa sebabnya mengapa orang-orang seperti Lisman Manurung (pernah
> > >> >disebutkan Ade Armando dalam postingnya sebagai orang yang ikut mengecam
> > >> >dia, dan dalam bayangan Ade adalah karena Lisman adalah “dosen inti
> > >> >penelitian†) sebenarnya tak melihat Ade sebagai orang yang mengerti
> > >> >konstelasi politik domestik UI.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Orang-orang seperti Lisman, yang lebih senior dari Ade mau pun Gumilar,
> > >> >dalam bayangan saya akan bilang (ini imajinasi saya saja), “De, lu gila
> > >> apa!
> > >> >Ada anak FISIP yang dapat amanah dari MWA (Gumilar mendapatkan 25 dari 29
> > >> >suara MWA saat pemilihan 2007, dengan satu suara abstain. Menang luar
> > >> biasa
> > >> >telak itu), bukannya lu dukung malah lu gempur habis-habisan. Tahu nggak
> > >> >kapan anak FISIP bisa jadi Rektor UI lagi? Mungkin 50 tahun lagi juga
> > >> belum
> > >> >tentu!â€
> > >> >
> > >> >9/
> > >> >
> > >> >Apakah dengan contoh no. 8 di atas saya maksudkan Rektor petahana (*
> > >> >incumbent*) dibiarkan saja “melenggang†apa yang dia mau lakukan, termasuk
> > >> >tindakan korupsi? *Nehi* (halah, saya juga sudah terjangkit virus Kang
> > >> >Hasan).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Sependek pengetahuan saya saja, di kampus saja ada Dewan Audit Internal
> > >> yang
> > >> >dibentuk MWA sendiri. Lalu sudah ada audit dari Kantor Akuntan Publik
> > >> setiap
> > >> >tahun. Lalu saya dengar lagi sudah ada pemeriksaan dari BPK. Lalu saya
> > >> >dengar juga ICW sedang meneliti “kasus†ini.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Nah, bukankah semua sudah pada jalur hukum yang benar? Kita semua, sebagai
> > >> *
> > >> >outsider*, menonton saja dari kejauhan. Tak perlu menyiram bensin untuk
> > >> >kepuasan pribadi.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Bukankah sejak lama Abraham Lincoln sudah berujar:
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >You can fool some of the people all of the time,
> > >> >
> > >> >and all of the people some of the time,
> > >> >
> > >> >but you can not fool all of the people all of the time.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >            Anda bisa menipu beberapa orang sepanjang waktu,
> > >> >
> > >> >          dan (anda bisa menipu) seluruh manusia untuk beberapa saat,
> > >> >
> > >> >          tetapi anda tak akan bisa menipu seluruh manusia sepanjang
> > >> waktu.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Hemat saya, peringatan Lincoln ini berlaku dua arah: ya bagi Ade, ya bagi
> > >> >Gumilar.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Kita lihat saja siapa yang mencoba “menipu seluruh manusia sepanjang
> > >> waktu†.
> > >> >Waktu yang akan menentukan. Dan tentu saja atas kehendak Tuhan Yang Maha
> > >> >Rahman, ketika saatnya Dia berkata, “buka semua rahasia!â€
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >10/
> > >> >
> > >> >Yang lolos Anda cermati dan pahami Farid, saya dan Ade Armando bicara
> > >> dalam
> > >> >dua frekuensi di sini.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Frekuensi pertama adalah frekuensi yang Anda (dan kawan-kawan lain) baca
> > >> apa
> > >> >adanya dari teks yang kami gunakan, baik dari Ade maupun saya. Frekuensi
> > >> >kedua adalah frekuensi yang “hanya Ade dan saya yang tahu†berdasarkan
> > >> >“field of experience†kami tentang FISIP dan tentang UI.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Dalam setiap posting, saya selalu mengirimkan  “encoding data†yang saya
> > >> >yakini akan di-“decode†Ade, seperti juga Ade selalu mengirimkan “encoding
> > >> >data†lainnya yang harus saya “decode†sebelum saya verifikasi.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Supaya anda tidak bingung, baiklah saya beri contoh pada posting-posting
> > >> >terakhir ketika Ade (menurut seorang anggota milis, sudah terlalu lelah)
> > >> >sehingga hanya mengulang-ulang soal “gaji pekerja kebersihan UI Rp 500
> > >> ribu
> > >> >sebulan†(yang juga anda suarakan lagi sekarang).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Silakan anda cari posting saya pekan lalu yang meminta Ade untuk
> > >> >menjelaskan, apa maksud baliho besar “PEKERJA UI MENGGUGAT!†yang dipasang
> > >> >persis di seberang Stasiun UI arah ke kampus.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Saya masih ingat 3 (samara-samar, mungkin ada yang bisa membantu mengecek
> > >> >ulang) poin baliho yang dibuat oleh PAGUYUBAN PEKERJA UI itu. (Paguyuban
> > >> >Pekerja lho Farid). Ini isinya:
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >-          Laksanakan PP 66/2010
> > >> >
> > >> >-          Alih Status Menjadi PNS
> > >> >
> > >> >-          Lawan Upaya Kudeta Elit-Elit Universitas
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >10.1.
> > >> >
> > >> >Jika ada 2000-3000 orang pekerja yang bernaung di bawah “Paguyuban
> > >> Pekerjaâ€
> > >> >itu (dan sedang menjerit meminta menjadi PNS, yang secara cepat bisa
> > >> >diartikan sebagai tidak puas atas “kelambanan†Rektor sekarang memproses
> > >> >status PNS mereka), mengapa soal sesensitif dan mengoyak perasaan seperti
> > >> >“honor di bawah UMR†itu tak mereka masukkan menjadi tuntutan?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Apakah 2000-3000 pekerja se-UI sedemikian pekak-tulinya terhadap
> > >> penderitaan
> > >> >pekerja kebersihan yang nota bene kawan-kawan mereka sendiri, sehingga
> > >> hanya
> > >> >Ade Armando seorang yang tahu soal “upah di bawah UMR†ini?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Apa intuisi anda sebagai seorang jurnalis senior, Farid?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >(Kalau ditanyakan ke Ade Armando, sudah bisa diduga jawabannya, “Ah, pasti
> > >> >mereka sudah dibayar Gumilar.†Karena, apa boleh buat, memang sejauh
> > >> itulah
> > >> >ternyata kemampuan analisis Ade. Siapa pun yang tak setuju dengan pendapat
> > >> >dia, Rochman Achwan, Lisman Manurung, saya, Paguyuban Pekerja, pasti
> > >> >ujung-ujungnya karena itu).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >10.2.
> > >> >
> > >> >Soal “kelambanan†pengangkatan PNS, ini berkaitan dengan soal no. 1,
> > >> karena
> > >> >selama ini UI, bersama 6 PTN lainnya, adalah Badan Hukum Milik Negara
> > >> (BHMN)
> > >> >yang ditetapkan sejak tahun 2000 berdasarkan PP 152.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Tahun 2000, Farid. Ade Armando boleh saja memicingkan mata soal ini. Tapi
> > >> >melepaskan diri dari konteks penggunaan kontroversi payung hukum ini
> > >> >(sebelum akhirnya MK membatalkan  PP 152 tahun lalu, termasuk dengan
> > >> >konsekuensinya dengan membubarkan MWA sebagai “superbody†universitas yang
> > >> >memilih Rektor).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Rektor sekarang itu (bukan hanya UI, tapi juga 6 eks-BHMN lain) sedang
> > >> sibuk
> > >> >“cuci piring†bekas-bekas jejak payung hukum lama yang membuat kampus
> > >> >sebagai “private goods†bukan sebagai “public goods†seperti yang
> > >> >diamanahkan kembali lewat PP 66/2010.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Lantas, pertanyaannya, kalau memang kesibukan “cuci piring†ini bukan
> > >> hanya
> > >> >di UI tapi juga di 6 kampus lain, mengapa ‘pemberontakan’ ini hanya
> > >> terjadi
> > >> >di UI, berpusar hebat, mendapat liputan masif media, dan tidak terjadi di
> > >> >kampus-kampus lainnya? Apa boleh buat. *Names make news*.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >10.3.
> > >> >
> > >> >Yang juga tak kalah menarik, dan harus dianalisis dengan cermat, mengapa
> > >> >Paguyuban Pekerja UI yang menuntut secepatnya “Alih Status Sebagai PNSâ€
> > >> itu
> > >> >juga menuntut “Lawan Kudeta Elit-elit Universitas†seperti pada posting
> > >> saya
> > >> >kepada Ade Armando pekan lalu. (Sayangnya, sampai sekarang Ade masih juga
> > >> >belum menjawab soal ini).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Apa itu maksudnya “Lawan Kudeta†? Siapa yang mau melakukan “kudeta†? Siapa
> > >> >yang dijadikan sasaran obyek “kudeta†?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Bisakah anda bayangkan kontradiksi ini Farid? Ketika 2000-3000-an pekerja
> > >> >seluruh UI tidak “membeli dagangan†Ade Armando soal pekerja yang dibayar
> > >> di
> > >> >bawah UMR, ketika status sebagai PNS pun belum semuanya mereka dapatkan,
> > >> >mereka malah menyuarakan “Lawan Kudeta Elit-Elit Universitas†?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >10.4
> > >> >
> > >> >Untuk ingatan saya tentang klaim baliho yang belum tentu akurat ini,
> > >> Farid,
> > >> >silakan anda menunjuk siapa saja anggota milis ini (kecuali Ade dan saya)
> > >> >yang masih rajin ke UI (baik untuk kuliah maupun mengajar), untuk mengecek
> > >> >betulkah baliho Paguyuban Pekerja di depan Stasiun UI itu tertulis begitu?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >(Kalau Zel Lubis a.k.a. Bulbul Tuptup mau membantu “reportase†sederhana,
> > >> >hanya menyampaikan isi baliho, saya kira sudah menjadi kontribusi besar
> > >> >untuk verifikasi data. Tak masalah bagi saya bahwa Zel, dalam salah satu
> > >> >postingnya, mengaku sebagai pendukung silent majority Ade Armando. Itulah
> > >> >hak demokrasi. Tetapi pada saat yang saya, harus ada hal-hal yang secara
> > >> >kuantitatif bisa kita sepakati bersama. Misalnya soal baliho itu yang
> > >> >menurut saya sangat urgent dalam menjawab pertanyaan Ade.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >11/
> > >> >
> > >> >Terakhir, menjawab tudingan miring “Rektor terlalu sering jalan-jalan ke
> > >> >luar negeri dengan para pendukungnya†(atau semacam itulah). Saya hanya
> > >> bisa
> > >> >bilang w*allahu’alam*. Hanya Tuhan yang Tahu. Tetapi jika majalah intern
> > >> “UI
> > >> >Update†terbaru bisa digunakan sebagai acuan (saya dipinjamkan  seorang
> > >> >teman, tetapi majalah ini didistribusikan ke fakultas-fakultas dan konon
> > >> >bisa diambil, gratis, di Perpustakaan Pusat), saya ingin mengutip artikel
> > >> di
> > >> >halaman 5, UI Update Edisi 3/Tahun III/2011.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Pada artikel satu halaman yang berjudul panjang â€" judul tidak saya sunting
> > >> >-- “Oleh-oleh dari Eropa Untuk Indonesia: Kerja Sama Pendidikan
> > >> >Indonesiadengan Prancis, Jerman, Itali, dan Spanyol†itu diceritakan
> > >> >bahwa:
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >-          Selama 10 hari kerja (4-16 Juni 2011) delegasi UI berkunjung ke
> > >> >empat negara (Prancis, Jerman, Italia, Spanyol).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >-          Delegasi terdiri dari: Rektor UI, Dekan Fakultas Teknik, Dekan
> > >> >FIB, Dekan FKG, Direktur Umum dan Fasilitas, dan Kepala Kantor Sekretariat
> > >> >Pimpinan UI.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Mengapa dekan hanya diwakili tiga orang? Saya duga itu mewakili ketiga
> > >> >
> > >> >Rumpun Ilmu yang ada di UI, yakni Rumpun Science and Engineering
> > >> >
> > >> >(diwakili Fak Teknik), Rumpun Life Sciences (diwakili Fak Kedokteran
> > >> >
> > >> >Gigi), dan Rumpun Social Sciences dan Humanity (diwakili dekan
> > >> >
> > >> >Fakultas Ilmu Budaya/d.h. Sastra).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Proporsional, bukan?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Sekarang kita lihat apa hasil kunjungan kerja 10 hari itu?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >-          Terjadi serangkaian MoU dengan (1) 6 Universitas Prancis
> > >> >(Pantheon Sorbonne, Pierre et Marie Curie, Le Havre, Toulouse, Inalco
> > >> Paris,
> > >> >dan Paul Sabatier), (2) Dengan 3 Universitas Jerman (Darmstadt.
> > >> >Braunschweig, dan Duisburg-Essen), (3) Dengan 4 Universitas Italia
> > >> >(Politecnico de Milano, Roma tor Vergata, Sapienza, dan Napoli), serta (4)
> > >> >Dan dengan 1 Universitas Spanyol (Complutence de Madrid).
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >MoU dengan 14 universitas Eropa dalam 10 hari kerja, Farid? Kerja seperti
> > >> >apa itu? Burukkah atau Bagus? Oke, tahan dulu jawaban anda, dan kita lihat
> > >> >apa isi MoU.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >-          Ternyata yang dirintis adalah Program Fast Track, di mana para
> > >> >mahasiswa sarjana UI dalam langsung menempuh program doktor dalam waktu 3
> > >> >tahun (tanpa lewat jenjang Master lagi), sehingga saat seorang mahasiswa
> > >> >berumur 23-25 tahun itu para mahasiswa Indonesia sudah menyandang gelar
> > >> >doktor.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Program barukah itu? Tidak, jika riwayat akademis Rektor sendiri dijadikan
> > >> >contoh. *Gumilar did his talk*, di awal paruh pertama 90-an. Dari seorang
> > >> >sarjana Sosiologi (S1 reguler), dia “melompat jenjang†langsung mengikuti
> > >> >program doctoral di Universitas Bielefeld, Jerman (yang dilihat banyak
> > >> >ilmuwan social sebagai Harvard-nya Ilmu Sosial di Eropa).  Makanya pada
> > >> >gelar pada nama Gumilar hanya Prof. Dr. der Soz Gumilar R. Somantri, tak
> > >> ada
> > >> >gelar Master (S2), karena memang dia tak pernah kuliah S2, seperti
> > >> >kebanyakan doktor lain yang harus lulus S2 dulu sebelum masuk program S3.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >-          Lalu dengan ditandatanganinya MoU itu (disebutkan oleh majalah
> > >> UI
> > >> >Update), saya kutipkan: “Indonesia berpeluang menambah devisa negara
> > >> dengan
> > >> >hadirnya para dosen dan mahasiswa asing ke Indonesia. Sebagai contoh,
> > >> tahun
> > >> >ini, 20 mahasiswa dan dosen arsitektur dari Universitas Politecnico de
> > >> >Milano, Italia, mengirim untuk melakukan lokakarya dan riset kolaboratif
> > >> >dengan Departemen Arsitektur di Fakultas Teknik UI selama 1 bulan di
> > >> >Indonesia†.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >-          Lalu pada alinea terakhir artikel itu ditutup dengan: “…
> > >> >Kerjasama yang dirintis oleh UI ini tidak hanya diperuntukkan bagi para
> > >> >mahasiswa UI, tetapi juga terbuka bagi universitas lain di Indonesia.â€
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Dengan contoh hasil kunjungan kerja seperti itu (tentu saja ini satu
> > >> contoh
> > >> >yang bisa saya dapatkan dari majalah/bulletin UI, Ade Armando mungkin bisa
> > >> >melengkapi dengan contoh-contoh lain jika bersedia), apakah hasil-hasil
> > >> MoU
> > >> >itu bisa dijadikan bagian dari tuduhan bahwa Rektor UI “sering
> > >> jalan-jalanâ€
> > >> >seperti didengungkan selama ini?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >*Wallahu’alam*. Saya tidak tahu. Jika ada yang menuding seperti itu,
> > >> >buktikan saja seperti mahasiswa PPI di berbagai negara Eropa menangkap
> > >> basah
> > >> >para legislator yang sedang berbelanja di mall-mall mewah (lengkap dengan
> > >> >foto yang beredar di internet), padahal mengaku di dalam negeri akan
> > >> >mengunjungi negeri-negeri asing untuk “studi banding†.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Simpel saja sebetulnya semua masalah ini, karena hanya berujung pada satu
> > >> >muara: verifikasi.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Kalau itu terjadi, saya kira bukan hanya mereka yang masih berkhidmat di
> > >> >dalam UI yang marah, melainkan juga para alumni. Tidak percayakah, anda?
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Tapi masalahnya sederhana sekali, dan sudah terbukti berulang kali: Ade
> > >> >Armando terlalu malas melakukan verifikasi, dan sekarang anda FG, yang
> > >> >dengan setia menjadi juru bicaranya, dan mau bersusah payah melakukan
> > >> >justifikasi ‘3 Langkah Verifikasi’ yang, ah sudahlah Farid …
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Ini betul-betul POSTING TERAKHIR saya tentang UI, terutama dalam
> > >> menanggapi
> > >> >tudingan-tudingan Ade Armando. Anda mau melanjutkan dengan “10 Langkah
> > >> >Verifikasi†atau “20 Langkah Verifikasi†pun, *monggo*.
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >*I rest my case*.
> > >> >
> > >> >Salam hormat,
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >Akmal Nasery Basral
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >2011/10/16 Farid Gaban <faridgaban@>
> > >> >
> > >> >> **
> > >> >>
> > >> >>
> > >> >> Teman-teman,
> > >> >>
> > >> >> Beberapa teman di milis ini bertanya mengapa saya berpihak pada kelompok
> > >> >> Save UI/Ade Armando yang menggugat Rektor Gumelar. Mereka bertanya,
> > >> apakah
> > >> >> saya patut memihak/menyimpulkan sesuatu tanpa melakukan verifikasi,
> > >> prinsip
> > >> >> penting yang sering saya kemukakan dalam diskusi mengenai jurnalisme.
> > >> >>
> > >> >> Tulisan (sikap saya pribadi) di milis ini tidak bisa dikatakan sebuah
> > >> karya
> > >> >> jurnalistik, dan saya tak mengklaim seperti itu. Meski begitu sangat
> > >> wajar
> > >> >> orang bertanya: apakah saya telah melakukan verifikasi sebelum mengambil
> > >> >> sikap? Seberapa jauh verifikasinya dalam kerangka jurnalisme?
> > >> >>
> > >> >> Tulisan di bawah ini, merupakan pertanggungjawaban saya secara lebih
> > >> >> menyeluruh yang mungkin bisa menjadi bahan diskusi kita bersama, baik
> > >> dalam
> > >> >> konteks aktivisme sosial (bersikap dan bertindak, tak hanya sebagai
> > >> >> pengamat) maupun dalam konteks profesionalisme jurnalis.
> > >> >>
> > >> >> TENTANG PEMIHAKAN DAN PROFESIONALISME JURNALIS
> > >> >>
> > >> >> Beberapa tahun lalu, bersama segelintir teman, saya melakukan
> > >> demonstrasi
> > >> >> untuk Perdamaian Aceh di Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta. Dua tahun
> > >> lalu,
> > >> >> saya sempat mau berkemah di Mabes Polri jika saja Erry Riyana
> > >> Hardjapamekas
> > >> >> masuk tahanan untuk mendukung eksistensi KPK yang terancam dalam Kasus
> > >> >> Bibit-Chandra.
> > >> >>
> > >> >> Beberapa teman bertanya: "Apakah layak jurnalis melakukan demonstrasi?"
> > >> >>
> > >> >> Maaf, saya berbeda dengan banyak teman jurnalis lain, yang menganggap
> > >> >> menjadi jurnalis profesional adalah menjadi netral, berjarak, tak mau
> > >> >> terlibat.
> > >> >>
> > >> >> Seperti profesi apapun (dosen, ahli fisika, dokter, pengacara, akuntan),
> > >> >> menurut saya, profesi jurnalis tak semestinya terlepas dari tuntutan
> > >> >> kepedulian sosial, aktivisme sosial.
> > >> >>
> > >> >> Saya tak menganggap profesi jurnalis adalah profesi satu-satunya dan
> > >> >> segala-galanya. Di samping sebagai pekerjaan (mencari uang), jurnalisme
> > >> >> adalah satu sarana perubahan sosial. Dan jika jurnalisme tak memuaskan
> > >> saya
> > >> >> dalam ikut serta mendorong perubahan, saya harus mencari cara-cara lain
> > >> di
> > >> >> luar profesi saya.
> > >> >>
> > >> >> Melakukan demonstrasi adalah bagian kecil, sangat kecil, dari aktivisme
> > >> >> sosial itu. Dan tak semestinya kita hanya berhenti di situ, terus
> > >> berupaya
> > >> >> mencari cara lain dalam melakukan perubahan dan koreksi kebijakan.
> > >> >>
> > >> >> VERIFIKASI
> > >> >>
> > >> >> Kembali ke verifikasi. Dalam jurnalisme ada setidaknya dua jenis
> > >> >> verifikasi:
> > >> >>
> > >> >> 1. Memeriksa kesaksian-kesaksian orang yang terlibat, baik pro maupun
> > >> >> kontra. Juga memeriksa opini/gagasan jika yang dipermasalahkan adalah
> > >> >> gagasan.
> > >> >>
> > >> >> 2. Memeriksa ada tidaknya dokumen atau bukti keras jika yang
> > >> >> dipermasalahkan adalah tuduhan kejahatan pidana (seperti korupsi).
> > >> Apakah
> > >> >> dikumen itu cukuo spesifik?
> > >> >>
> > >> >> LANGKAH-LANGKAH VERIFIKASI SAYA
> > >> >>
> > >> >> LANGKAH 1
> > >> >>
> > >> >> Pertama-tama saya memeriksa Dokumen Save UI, bukan hanya intisari yang
> > >> >> disampaikan Ade Armando atau bantahan Akmal Basral di milis ini.
> > >> >>
> > >> >> Diskusi mereka sarat emosi, dan mengaburkan banyak esensi. Itu sebabnya
> > >> >> kita perlu masuk ke substansi, setidaknya masuk pada suatu yang
> > >> >> terdokumentasi: DOKUMEN SAVE UI.
> > >> >>
> > >> >> Ada setidaknya 13 poin gugatan Save UI pada Rektor Gumelar.
> > >> >>
> > >> >> 1. Kerugian finansial UI (Rp 1 Miliar) akibat terhentinya pembangunan
> > >> >> Fakultas Kedokteran serta rumah sakit karena Rektor memaksakan
> > >> pembangunan
> > >> >> boulevar.
> > >> >>
> > >> >> 2. Pembangunan Perpustakaan Pusat, yang mewah dan mubazir. Gedung
> > >> delapan
> > >> >> tingkat itu senilai Rp 170 miliar (sekitar Rp 70 miliar uang rakyat),
> > >> dan
> > >> >> sebagian besar dipakai untuk fasilitas non-perpustakaan seperti cafe
> > >> >> Starbucks, fitness-center dan ruang-ruang pertemuan komersial. Biaya
> > >> lanskap
> > >> >> saja Rp 35 miliar; membeli rumput Rp 1 miliar. Lebih dari itu,
> > >> pembangunan
> > >> >> gedung tanpa sepengetahuan Majelis Wali Amanah (semacam komisaris
> > >> >> universitas) yang mengindikasikan korupsi.
> > >> >>
> > >> >> 3. Sistem keuangan terpusat yang menyulitkan pengelolaan keuangan
> > >> fakultas,
> > >> >> terlambatnya dana penelitian dan gaji dosen. Juga buruknya tata kelola
> > >> >> keuangan dan mengindikasikan korupsi.
> > >> >>
> > >> >> 4. Dengan uang universitas, Rektor UI membiayai hewan peliharaan
> > >> (anjing,
> > >> >> musang, kasuari, kucing, mentog, ayam ketawa, monyet, ular kuning,
> > >> burung
> > >> >> dan ikan). Biaya pemeliharaan menghabiskan Rp 45 juta per bulan; ironi
> > >> di
> > >> >> hadapan gaji pekerja kebersihan yang sangat murah.
> > >> >>
> > >> >> 5. Pekerja kebersihan yang dibayar murah Rp 500 ribu per bulan.
> > >> >>
> > >> >> 6. Terlalu sering melakukan perjalanan keluar negeri (50 kali pada tahun
> > >> >> kedua masa jabatannya), membawa rombongan besar, menghabiskan biaya
> > >> besar.
> > >> >>
> > >> >> 7. Dengan uang universitas, Rektor UI menyuap media, membayar media
> > >> untuk
> > >> >> membangun citranya. Membayar Rp 44 juta, pada September 2010, Rektor
> > >> Gumelar
> > >> >> muncul dalam cover dan wawancara eksklusif Majalah Eksekutif. Tak hanya
> > >> >> uangnya, praktek seperti itu melanggar Kode Etik Jurnalistik dan Kode
> > >> Etik
> > >> >> Public Relations.
> > >> >>
> > >> >> 8. Intimidasi terhadap mahasiswa yang mengkritik kebijakannya.
> > >> >>
> > >> >> 9. Pengabaian mahasiswa ekonomi lemah. SPP mahasiswa adalah sumber
> > >> terbesar
> > >> >> keuangan UI: Rp 762 miliar pada 2010. Mahasiswa menanggung 74% dari
> > >> total
> > >> >> biaya pendidikan UI. Itu sebabnya uang kuliah menjadi makin mahal,
> > >> >> menyingkirkan mahasiswa ekonomi lemah.
> > >> >>
> > >> >> 10. Kasus Program Kerjasama Daerah dan Industri. UI menerima 20%
> > >> mahasiswa
> > >> >> melalui kerjasama dengan daerah (11 provinsi dan 112 kabupaten) dan
> > >> >> perusahaan/industri. UI mengambil keuntungan besar, mahasiswa ini
> > >> membayar
> > >> >> jauh lebih mahal, mengabaikan "tujuan pembangunan daerah" yang menjadi
> > >> klaim
> > >> >> semula.
> > >> >>
> > >> >> 11. Rektor UI memaksa memindahkan 10 pohon Baobab (Adansoia Digitata)
> > >> dari
> > >> >> Subang, Jawa Barat, untuk ditanam di sekitar Gedung Rektorat. Pohon
> > >> Baobab
> > >> >> itu pohon raksasa, masing-masing sekitar 20 meter tingginya, dibutuhkan
> > >> 16
> > >> >> orang untuk memeluknya, seberat 60 ton, berusia 100 tahun. Biaya
> > >> >> pemindahannya Rp 100 juta per pohon.
> > >> >>
> > >> >> 12. Kasus Pemberian Gelar Honoris Causa kepada Raja Abdullah dari Saudi
> > >> >> Arabia. Dinilai tidak sensitif dengan nasib tenaga kerja Indonesia di
> > >> Saudi,
> > >> >> dan lebih dari itu tanpa konsultasi dengan Majelis Wali Amanah. Mengutip
> > >> >> Rektor UI: Doctor honoris causa diberakan kepada Raja Saudi untuk alasan
> > >> >> kemanusiaan, tak ada hubungannya dengan Hak Asasai Manusia.
> > >> >>
> > >> >> Dipersoalkan pula pemberian gelar honoris causa untuk Isidro F. Aguillo,
> > >> >> warga Spanyol yang tak jelas kontribusinya pada ilmu pengetahuan,
> > >> kecuali
> > >> >> sebagai editor "Webometrics Ranking of World Universities", seperti
> > >> menyuap
> > >> >> Aguillo untuk menaikkan ranking UI di kalangan universitas
> > >> internasional.
> > >> >>
> > >> >> 13. Kasus dosen dan karyawan tidak tetap yang nasibnya terkatung-katung.
> > >> >>
> > >> >> LANGKAH 2
> > >> >>
> > >> >> Memeriksa kredibilitas penyusun Dokumen Save UI: Ade Armando, Effendi
> > >> >> Gazali, Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono, Martani Husaini, Rhenald Kasali,
> > >> Faisal
> > >> >> Basri.
> > >> >>
> > >> >> Di samping itu, ada legal opinion yang diajukan dalam kaitan berbagai
> > >> >> kebijakan Rektor UI yang dinilai tidak taat asas/hukum: dibacakan oleh
> > >> Adnan
> > >> >> Buyung Nasution dan diperkuat oleh Prof. Dr. Hikmahanto Juwana dalam
> > >> >> tulisannya di Harian "Seputar Indonesia" (12 September 2011).
> > >> >>
> > >> >> Orang-orang yang disebut di atas bukanlah dewa, yang bebas dari
> > >> kesalahan.
> > >> >> Tapi, reputasinya juga tidak sangat jelek. Artinya boleh dipercaya,
> > >> meski
> > >> >> tidak 100%, dan mungkin hanya 80%. Tapi, ini baru soal judgement, bukan
> > >> >> kebenaran itu sendiri.
> > >> >>
> > >> >> Bagaimanapun, bagi jurnalis, itu merupakan pijakan awal yang sahih untuk
> > >> >> melakukan verifikasi lebih jauh, bukan lantas sama sekali
> > >> mengabaikannya.
> > >> >>
> > >> >> LANGKAH 3
> > >> >>
> > >> >> Dokumen dan legal opinion Save UI baru satu versi saja. Dan kita tentu
> > >> >> harus mendengar versi di seberangnya.
> > >> >>
> > >> >> Ada tuduhan dan ada jawaban.
> > >> >>
> > >> >> Memeriksa argumen Akmal Basral di milis ini, adalah satu metode
> > >> verifikasi:
> > >> >> yakni "mendengar versi seberang" tadi. Saya bahkan juga mengundang
> > >> Rochman
> > >> >> Achwan untuk masuk ke milis ini sebagai upaya verifikasi (namun dia
> > >> menolak,
> > >> >> apapun alasannya).
> > >> >>
> > >> >> Mengingat Akmal gencar sekali membela Rektor UI, dan dialah yang memulai
> > >> >> serangan personal kepada kelompok Save UI, saya tadinya berharap ada
> > >> >> bantahan versi "Rektor UI" yang substansial dan menyeluruh.
> > >> >>
> > >> >> Ternyata tidak. Akmal hanya membicarakan dua poin: soal boulevar dan
> > >> gelar
> > >> >> honoris causa.
> > >> >>
> > >> >> Dalam soal boulevar pun, Akmal cuma membicarakan isu paranormal, yang
> > >> >> memang debatable, tapi bukan substansi bahwa UI dirugikan secara
> > >> finansial
> > >> >> maupun rugi karena kelambatan membangun Fakultas Kedokteran dan Rumah
> > >> Sakit.
> > >> >>
> > >> >> Soal gelar honoris causa Raja Saudi juga debatable. Dan menurut saya
> > >> bukan
> > >> >> gugatan substansial Save UI kecuali mereka cuma mau menunjukkan bahwa
> > >> Sang
> > >> >> Rektor tak sensitif pada isu HAM.
> > >> >>
> > >> >> Akmal tak membahas doktor honoris causa untuk Isidro F. Aguillo.
> > >> >>
> > >> >> Tentu saja, tidak fair untuk menyandarkan argumen Akmal di milis ini
> > >> >> sebagai jawaban atas keseluruhan gugatan terhadap Rektor UI.
> > >> >>
> > >> >> Saya berusaha melakukan riset kecil-kecilan untuk mencari jawaban Rektor
> > >> UI
> > >> >> berkaitan dengan tuduhannya. Tapi, tidak menemukannya.
> > >> >>
> > >> >> Tentu saja, saya bisa melakukan wawancara Rektor UI, tapi bahkan jika
> > >> >> wawancara, saya akan cuma mendapat pernyataan.
> > >> >>
> > >> >> Verifikasi jurnalisme menuntut wartawan lebih jauh dari sekadar
> > >> mendapatkan
> > >> >> pernyataan. Kita memerlukan dokumen. Dokumen Save UI adalah dokumen
> > >> publik.
> > >> >> Saya tadinya berharap ada dokumen publik sebanding versi Rektor UI.
> > >> >>
> > >> >> Dokumen Save UI memuat tuduhan yang sangat rinci dan spesifik (kecuali
> > >> >> dalam dua hal yang akan saya sebut nanti), yang semestinya SANGAT MUDAH
> > >> >> DIBANTAH jika tidak benar. Tapi, sejauh ini saya tidak menemukan ada
> > >> >> bantahan resmi dari Rektor UI yang terdokumentasi.
> > >> >>
> > >> >> Soal pohon baobab, soal perpustakaan yang mewah, soal uang universitas
> > >> >> untuk hewan peliharaan, soal gaji rendah pekerja kebersihan SANGAT MUDAH
> > >> >> DIBANTAH jika tidak benar. Tapi, tak ada bantahan itu.
> > >> >>
> > >> >> Dengan itulah saya menyimpulkan: Dokumen Save UI sahih, sebagian besar
> > >> >> benar, tapi dengan sedikit catatan.
> > >> >>
> > >> >> Dokumen Save UI memiliki kelemahan. Ketika menyebut pembangunan
> > >> >> perpustakaan pusat dan sentralisasi keuangan mereka menyebut "ada
> > >> indikasi
> > >> >> korupsi". Tapi, patut disayangkan, mereka tidak menyertakan bukti,
> > >> tuduhan
> > >> >> cukup spesifik dan terukur untuk mudah diverifikasi.
> > >> >>
> > >> >> Seperti telah saya katakan, saya tidak menganggap Dokumen Save UI
> > >> >> mengandung 100% kebenaran. Tapi, juga tak menganggap, karena adanya
> > >> >> kekurangan tadi, Dokumen Save UI nonsense.
> > >> >>
> > >> >> Bahkan, menurut saya, justru sebagian besar isi Dokumen Save UI itu
> > >> sahih.
> > >> >> Dan dengan itulah saya bersikap.
> > >> >>
> > >> >> PENUTUP
> > >> >>
> > >> >> * Verifikasi dimulai dari memeriksa detil substansi (bukan cuma
> > >> >> kesan-kesan).
> > >> >>
> > >> >> * Verifikasi dilakukan dengan memeriksa para pihak, setidaknya dua
> > >> >> pihak/kubu, yang terlibat.
> > >> >>
> > >> >> * Dokumen lebih penting dari pernyataan. Dokumen Save UI lebih penting
> > >> dari
> > >> >> hanya sekadar penyataan Ade Armando. Dokumen Rektor UI (jika ada) lebih
> > >> >> penting dari sekadar pernyataan/wawancara Rektor UI.
> > >> >>
> > >> >> ***
> > >> >>
> > >> >>
> > >> >>
> > >> >
> > >> >
> > >> >[Non-text portions of this message have been removed]
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >------------------------------------
> > >> >
> > >> >Yahoo! Groups Links
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >------------------------------------
> > >> >
> > >> >Yahoo! Groups Links
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >> >
> > >>
> > >> [Non-text portions of this message have been removed]
> > >>
> > >> 
> > >>
> > >
> > >[Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > >------------------------------------
> > >
> > >Yahoo! Groups Links
> > >
> > >[Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>

__._,_.___
Recent Activity:
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar