Pendaftaran paket c kejar paket C

Pendaftaran paket c kejar paket C
Pendaftaran paket c kejar paket C

Syarat-syarat pendaftaran Paket A ( Pendidikan kesetaraan SD ).
(1) Mengisi Formulir Pendaftaran
(2) Sudah dapat membaca dan menulis dan berhitung (CALISTUNG).
(3) Peserta boleh dari luar kota di seluruh Indonesia.
(4) Menyerahkan pas foto:
(a) 2x3 sebanyak 5 lembar.
(b) 3x4 sebanyak 10 lembar
(c) Foto harus mengenakan baju putih berkerah (bukan kaos), foto berwarna,YARAT-SYARAT PENDAFTARAN

Syarat-syarat pendaftaran Paket B ( Pendidikan kesetaraan SMP ).
(1) Mengisi Formulir Pendaftaran
(2) Menyerahkan 5 lembar Fotocopy Ijazah SD.
(a) Ijazah SD boleh berasal dari daerah di seluruh Indonesia.
(b) Juga menerima peserta dari luar Indonesia / berijazah setara SMP asal luar negeri.
(3) Menyerahkan pas foto:
(a) 2x3 sebanyak 5 lembar.
(b) 3x4 sebanyak 10 lembar
(c) Foto harus mengenakan baju putih berkerah (bukan kaos), foto berwarna,

Syarat-syarat pendaftaran Paket C ( Pendidikan kesetaraan SMA ).
(1) Mengisi Formulir Pendaftaran
(2) Menyerahkan 5 lembar Fotocopy Ijazah SMP.
(a) Ijazah SMP boleh berasal dari daerah di seluruh Indonesia.
(b) Juga menerima peserta dari luar Indonesia / berijazah luar negeri.
(3) Menyerahkan pas foto:
(a) 2x3 sebanyak 5 lembar.
(b) 3x4 sebanyak 10 lembar
(c) Foto harus mengenakan baju putih berkerah (bukan kaos), foto berwarna,


WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN

Pendaftaran dibuka setiap hari. Jam buka pendaftaran 08.00 s/d 18.00.
Tempat pendaftaran di :
– RISTEK NUSANTARA –
Jl. Percetakan Negara 9 No.4 B Jakarta Pusat.
LOKASI MASUK DARI SAMPING KANAN RUTAN SALEMBA.- JL. PERCETAKAN NEGARA IX - JALAN BESAR MASUK MOBIL PARKIR DI DEPAN RISTEK
Telepon:
Ibu Nur
08161404440 (Mentari)
081213589558 (Simpati)
Irma
02193088375 (Esia)
Johan
02192750340 (Esia)
087881351485 (XL)
081281296537 (Simpati)
(021) 4240024 (Telepon Rumah)

TEMPAT BELAJAR
(1) Belajar secara tatap muka/belajar perkelas..
(2) Jam belajar ( SABTU/MINGGU jam 09.00 – 16.00)
(3) Tempat Belajar :
(1) RISTEK NUSANTARA - Jakarta:
Jl. Percetakan Negara 9 No. 4-B Jakarta Pusat.
(2) RISTEK NUSANTARA - Depok:
Jl. Abdul Wahab Rt.4 Rw.7 Kelurahan Kedaung Kecamatan Sawangan (daerah Pondok Petir) DEPOK.

UJIAN
Ujian diadakan 2 kali dalam setahun.
(*) Ujian gelombang I diadakan bulan Juni. Untuk mengikuti ujian
gelombang I anda harus terdaftar sebagai peserta sekolah
selambat-lambatnya bulan Februari.
(**) Ujian gelombang II diadakan bulan Oktober/Nopember. Untuk
mengikuti ujian gelombang II anda harus terdaftar sebagai peserta
sekolah selambat-lambatnya bulan Agustus.


LAIN - LAIN
Hal-hal mengenai pendaftaran dan lain-lain dapat ditanyakan langsung
ke pengelola:
Ibu Nur
08161404440 (Mentari)
081213589558 (Simpati)
Irma
02193088375 (Esia)
Johan
02192750340 (Esia)
087881351485 (XL)
081281296537 (Simpati)
(021) 4240024 (Telepon Rumah)

PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN

1. DIMANA ALAMAT PENDAFTARAN RESMI PAKET A/B/C?
- Jika anda berada di Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang dan
sekitarnya daftar langsung ke:
Ristek Nusantara
Jl. Percetakan Negara 9 No.4-B
Kelurahan Rawasari Kecamatan Cempaka Putih
Jakarta Pusat.


2. SAYA DI LUAR KOTA/LUAR NEGERI, BAGAIMANA CARA MENDAFTARNYA?
- Cara !:
Boleh diwakilkan oleh saudara/teman yang ada di Jakarta dengan membawa
syarat-syarat pendaftaran dan mengisi formulir pendaftaran yang
disediakan di tempat pendaftaran.

- Cara II:
Mengirimkan syarat-syarat pendaftaran yang diperlukan melalui TIKI/POS
ke alamat:
IBU NUR (Ristek Nusantara)
Jl. Percetakan Negara 7 No.1 Rt/Rw. 011/004
Kelurahan Rawasari Kecamatan Cempaka Putih
Jakarta Pusat.

3. APA SYARAT-SYARATNYA UNTUK MENDAFTAR PAKET A?
- Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan.
- Menyerahkan Pas Foto Ukuran 2x3 (5 buah) dan 3x4 (10 buah).
- Foto boleh berwarna dan harus mengenakan baju putih (bukan kaos).
Foto digunakan untuk ijazah.

4. APA SYARAT-SYARATNYA UNTUK MENDAFTAR PAKET B?
- Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan.
- Fotocopy ijazah SD sebanyak 5 lembar.
- Menyerahkan Pas Foto Ukuran 2x3 (5 buah) dan 3x4 (10 buah).
- Foto boleh berwarna dan harus mengenakan baju putih (bukan kaos).
Foto digunakan untuk ijazah.

5. APA SYARAT-SYARATNYA UNTUK MENDAFTAR PAKET C?
- Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan.
- Fotocopy ijazah SMP sebanyak 5 lembar.
- Menyerahkan Pas Foto Ukuran 2x3 (5 buah) dan 3x4 (10 buah).
- Foto boleh berwarna dan harus mengenakan baju putih (bukan kaos).
Foto digunakan untuk ijazah.

6. APAKAH BISA MENDAFTAR SECARA ONLINE?
- Tidak bisa.

7. APAKAH BISA MENDAFTAR MELALUI TELEPON?
- Boleh mendaftar melalui Telepon. Hubungi Ibu Nur di Telp.08161404440
.
8. BAGAIMANA CARA PEMBAYARAN?
- Pembayaran secara Cash atau Transfer bank.

9. APAKAH CARA PEMBAYARAN BOLEH DIANGSUR?
- Pembayaran BOLEH DIANGSUR 4 kali masing masing 25% dari total biaya
dan harus sudah lunas sebelum mengikuti ujian.

10. APAKAH IJAZAH INI RESMI?
- Ijazah ini Resmi Ijazah Negara, terdaftar di Dinas Dikmen.

11. APAKAH HARUS HADIR SAAT UJIAN?
- Ya, anda harus hadir mengikuti ujian pada tanggal yang ditentukan.
- Ujian ini adalah ujian RESMI yang diadakan Negara/Pemerintah,
Tanggal, waktu dan tempat ujian akan ditentukan kemudian. Tanyakan
tatacaranya ke Ibu Nur Telp.08161404440

12. USIA SAYA SUDAH 40 TAHUN, MASIH BOLEHKAH MENGIKUTI PAKET B?
- Boleh. Paket ini tidak memandang usia. Asalkan ada niat dan
kesempatan, usia berapapun boleh mengikuti paket ini.

13. SAYA DROPOUT KELAS 2 SMP, BOLEHKAN SAYA IKUT UJIAN PAKET B SETARA SMP?
- Boleh.

14. SAYA DROPOUT KELAS 2 SMA, BOLEHKAN SAYA IKUT UJIAN PAKET C SETARA SMA?
- Boleh.

15. DIMANAKAH HARI WAKTU DAN TEMPAT BELAJAR?
- Belajar hari SABTU dan MINGGU. Dari jam 10.00 – 16.00 di RISTEK NUSANTARA.

16. SAYA SIBUK KERJA, TIDAK BISA HADIR BELAJAR?
- Bahan pelajaran Silahkan diambil di RISTEK NUSANTARA dan anda boleh
belajar di rumah.

17. SAYA DI LUAR KOTA, TIDAK BISA HADIR BELAJAR?
- Bahan pelajaran akan kami kirimkan ke alamat anda. Anda boleh
belajar di rumah.

18. KAPAN UJIAN GELOMBANG PERTAMA?
- Ujian gelombang I dilaksanakan bulan Juni/Juli setiap tahunnya.
- Untuk mengikuti ujian Gelombang I anda harus terdaftar sebagai
peserta sekolah selambat-lambatnya bulan Februari.

19. SAYA MENDAFTAR BULAN MARET BOLEHKAH SAYA MENGIKUTI UJIAN GELOMBANG
I BULAN JUNI/JULI?
- Tidak Boleh. Walaupun ujiannya diadakan bulan Juni/Juli dan anda
mendaftar bulan Maret anda tetap tidak boleh ikut ujian. Bulan
(Maret-April–Mei) data sudah harus dikumpulkan ke dinas untuk diolah.
Jadi anda harus mendaftar selambat-lambatnya bulan Februari untuk
mengikuti ujian Gelombang I.

20. KAPAN UJIAN GELOMBANG KEDUA?
- Ujian gelombang II dilaksanakan bulan Oktober/Nopember setiap tahunnya.
- Untuk mengikuti ujian Gelombang II anda harus terdaftar sebagai
peserta sekolah selambat-lambatnya bulan Agustus.

21. SAYA MENDAFTAR BULAN SEPTEMBER BOLEHKAH SAYA MENGIKUTI UJIAN
GELOMBANG II BULAN OKTOBER/NOPEMBER?
- Tidak Boleh. Walaupun ujiannya diadakan bulan Oktober/Nopember dan
anda mendaftar bulan September sebelum ujian anda tetap tidak boleh
ikut ujian gelombang II.
Bulan (September-Oktober) data sudah harus dikumpulkan ke dinas untuk
diolah. Jadi anda harus mendaftar selambat-lambatnya bulan Agustus
untuk mengikuti ujian Gelombang II.

22. PERIODE PENDAFTARAN?
- Pendaftaran bulan
September/Oktober/Nopember/Desember/Januari/Februari akan mengikuti
ujian di bulan juni/Juli (Ujian Gelombang I).
- Pendaftaran bulan Maret/April/Mei/Juni/Juli/Agustus akan mengikuti
Ujian di bulan Oktober/Nopember (Ujian Gelombang II)

Jika jawaban di atas masih kurang jelas, silahkan bertanya langsung ke
Ibu Nur Telp.08161404440

Untuk versi html klik http://paketc.risteknusantara.com

23 SAYA BERSEKOLAH DI SEKOLAH INTERNASIONAL DAN INGIN MENGIKUTI PAKET
C SETARA SMA UNTUK MENDAPATKAN IJAZAH NASIONAL. BAGAIMANA CARANYA?
- Caranya adalah membawa fotocopy raport terakhir. Hubungi dan
serahkan kepada Ibu Nur di 08161404440. Ada beberapa tahapan yang
harus diurus untuk siswa paket C yang berasal dari sekolah
internasional. Hubungi kami untuk detailnya dan kami akan menguruskan
semuanya untuk anda.

24 SAYA LULUSAN SEKOLAH DI LUAR NEGERI DAN AKAN KULIAH DI INDONESIA.
KENAPA IJAZAH SMA ASAL LUAR NEGERI YANG SAYA MILIKI TIDAK DIAKUI DI
INDONESIA DAN BAGAIMANA CARA SAYA MENGURUSNYA AGAR SAYA BISA KULIAH
DI INDONESIA?
- Ijazah SMA asal luar Negeri harus disetarakan dulu dan dinilai oleh
suatu tim penilai. Setelah melalui penilaian akan diberikan surat
penyetaraan yang memungkinkan ijazah anda disetarakan dengan ijazah
SMA dan anda harus mengikuti ujian kesetaraan Paket C di tempat yang
ditentukan (Ristek Nusantara). Hubungi ibu Nur di telp.08161404440
dan kami dapat mengurusnya untuk anda.

25 SAYA SEKOLAH DI LUAR NEGERI TAPI TIDAK SELESAI/TIDAK TAMAT.
SEKARANG SAYA SUDAH ADA DI INDONESIA DAN INGIN MELANJUTKAN PENDIDIKAN
SAYA HINGGA SELESAI, BOLEHKAH SAYA MENDAFTAR PAKET C SETARA SMA UNTUK
MENDAPATKAN IJAZAH NASIONAL UNTUK MELANJUTKAN PENDIDIKAN SAYA?
- Boleh, serahkan fotocopy Raport terakhir kepada ibu Nur
telp.08161404440 dan kami akan mengurus sekolah Paket C setara SMA
untuk anda.

--
*Hubungi saya (Ibu Nur) di Telp. 08161404440 atau 02193088375 untuk
keterangan lebih lengkap. Kami tunggu telepon anda.*

* Informasi lengkap ke email: paketc@gmail.com . *
* Kunjungi website kami :
http://paketc.risteknusantara.com
http://kejarpaketc.com
http://paketc.net


--
*Hubungi saya (Ibu Nur) di Telp. 08161404440 atau 02193088375 untuk
keterangan lebih lengkap. Kami tunggu telepon anda.*

Kamis, 20 Oktober 2011

Paket C RE: [jurnalisme] MEMBACA BEN, MEMBACA FARID-ADE (1)

 

Sayang sekali diskusi substansialnya tidak muncul, malah yang kurang penting
begini yang keluar.

Salam hangat,

Alois Wisnuhardana

-----Original Message-----
From: jurnalisme@yahoogroups.com [mailto:jurnalisme@yahoogroups.com] On
Behalf Of h_ichlas@yahoo.com
Sent: Thursday, October 20, 2011 7:40 PM
To: jurnalisme@yahoogroups.com
Subject: Re: [jurnalisme] MEMBACA BEN, MEMBACA FARID-ADE (1)

Kalau saya kacungnya ade armando, so be it
-----Original Message-----
From: "Akmal N. Basral" <akmal.n.basral@gmail.com>
Sender: jurnalisme@yahoogroups.com
Date: Thu, 20 Oct 2011 19:38:08
To: <jurnalisme@yahoogroups.com>
Reply-To: jurnalisme@yahoogroups.com
Subject: Re: [jurnalisme] MEMBACA BEN, MEMBACA FARID-ADE (1)

tasning, anda baca bagian kedua komentar saya? ada 6 poin dari tulisan
ben yg saya tawarkan sebagai peluang diskusi.

pikiran rochman apa yg ingin saya sembunyikan? sudah gamblang dia
mengkritik sikap dosen-dosen spt ade armando kok.

ngomong-ngomong, kenapa anda bangga betul jadi kacungnya ade sih?
sampai segitunya pasang badan berhari-hari? saya yg kenal ade sejak
1986 saja biasa-biasa saja kok.

kalau mau diskusi substansi teks ben, ayo masuk ke substansi.

saya siap belajar dari anda.

ANB

On 10/20/11, h_ichlas@yahoo.com <h_ichlas@yahoo.com> wrote:
> Hehehe, kamu menulis ramai tapi isinya cuma pengelakan. Capek saya diskusi
> dengan orang yang tak jujur. Silakan menulis sesukamu akmal, salam saya
> untuk rochman achwan dan pikirannya yang ingin anda bunyikan secara indah
> itu :)
> -----Original Message-----
> From: "Akmal N. Basral" <akmal.n.basral@gmail.com>
> Sender: jurnalisme@yahoogroups.com
> Date: Thu, 20 Oct 2011 16:44:22
> To: <jurnalisme@yahoogroups.com>
> Reply-To: jurnalisme@yahoogroups.com
> Subject: Re: [jurnalisme] MEMBACA BEN, MEMBACA FARID-ADE (1)
>
> Tasning menulis -----
>
> "Fokus saja ke substansi. Atau katakan saja, saya setuju Rochman Achwan,
> period. Susah amat."
>
> -----------------------------
>
> Astaga, saya kira hanya mie saja yang instan. Ternyata ada juga wartawan
> (maaf saya tak tahu media Anda, Tasning, meski bisa saja saya browse) yang
> mau lebih instan dari seporsi mie rebus?
>
> Ben Anderson menulis itu, setelah saya print out dengan font ukuran 10 dan
> kertas A4, sampai 6 (enam) halaman! Masak komentar atas teks seserius itu
> hanya "... Atau katakan saja, saya setuju Rochman Achwan, period. Susah
> amat."
>
> Siapa yang mau bahas Rochman? Anda saja yang terobsesi dengan kolom
> Rochman.
>
> Bukankah soal kolom Rochman sudah saya jelaskan saat menjawab pertanyaan
> Farid? Ya, saya kirim posting itu ke milis ini untuk "menghentikan
> sementara" 4 (empat) seri Gumilar Gate yang sudah diposting Ade, sambil
> saya
> cari waktu untuk mengecek tudingan-tudingan awal itu. Satu posting pendek,
> melawan empat posting panjang yang berisi kata-kata umpatan dan kutukan.
> Dan
> anda sekarang, sebagaimana halnya juga Farid dan Ade, merasa saya yang
> memulai *flame* di milis ini lewat kolom Rochman itu?
>
> *Oh, my goodness! *Rasanya saya harus menulis sekuel cerpen "Epitaf"
> dengan
> tema: mie rebus.
>
>
> http://cerpenkompas.wordpress.com/2011/10/16/epitaf-bagi-sebuah-alibi/
>
> Thanks atas ide anda yang brilian, Tasning.
>
> Salam,
>
> ANB
>
>
>
>
> 2011/10/20 <h_ichlas@yahoo.com>
>
>> Akmal,
>>
>> Saya sudah membacanya 5 kali sejak beberapa bulan lalu. Kalau Anda ingat
>> (silakan dicek) sayalah yang mengirim naskah Ben itu ke milis ini
>> beberapa
>> bulan lalu, dan kemudian ditanggapi Farid Gaban.
>>
>> Berhentilah menduga-duga sesuatu yang Anda sukai.
>> Tasning
>> -----Original Message-----
>> From: "Akmal N. Basral" <akmal.n.basral@gmail.com>
>> Sender: jurnalisme@yahoogroups.com
>> Date: Thu, 20 Oct 2011 12:23:36
>> To: <jurnalisme@yahoogroups.com>
>> Reply-To: jurnalisme@yahoogroups.com
>> Subject: [jurnalisme] MEMBACA BEN, MEMBACA FARID-ADE (1)
>>
>> *Takrif (Disclaimer):*
>>
>> * *
>>
>> 1. Tanggapan ini saya buat tanpa membaca sebaris pun terjemahan bahasa
>> Indonesia K.T. Wigati atas artikel *Public Intellectuals (or A Tribute
>> to
>> Books) *yang ditulis Ben Anderson. Yang saya baca dari *thread* terbaru
>> tentang terjemahan Wigati adalah pengakuan Farid Gaban bahwa dia belum
>> membaca utuh tulisan Ben ketika minggu lalu menanggapinya.
>>
>>
>>
>> (Melihat tingkat emosionalitas para komentator pekan lalu yang terpantul
>> dari *posting-posting* mereka, saya kira bukan hanya Farid yang belum
>> membaca tuntas teks ini, melainkan sebagian besar membaca dengan
>> terburu-buru, bahkan hanya mencomot bagian yang disukainya saja dari
>> tulisan
>> Ben. Itu yang saya sampaikan kepada Tasning, bahwa pada hakikatnya dia
>> mengolok-olok Ben Anderson sendiri, bukan mengolok-olok sikap Ade dan
>> Farid
>> tentang peran akademisi seperti yang Tasning sangka dan ungkapkan dalam
>> 'kata pengantar'-nya saat mem-*forward* tulisan Ben).
>>
>>
>>
>> 1. Akhir pekan lalu saya minta izin menunda memberikan tanggapan dengan
>> menyatakan adanya 'cucian' yang harus saya lakukan. Namun via japri
>> sudah
>> saya jelaskan kepada Farid bahwa 'cucian' itu adalah majas untuk
>> membersihkan sesuatu (dalam hal ini makam orang tua). Pada Minggu malam
>> (16/10), saya sampaikan juga kepada Farid, via japri yang sama, bahwa
>> dalam
>> 2-3 hari ke depan saya akan posting tanggapan saya lebih rinci.
>>
>>
>>
>> 1. Sejak awal membaca sekilas tulisan Ben, saya sudah berbeda pendapat
>> dengan sebagian besar penanggap yang menafsirkan teks ini sebagai
>> bukti
>> bahwa bagi Ben Anderson, "seorang akademisi tidak seharusnya hanya
>> berkutat
>> dengan riset dan publikasi ilmiah, dan melupakan perannya dalam
>> masyarakat".
>> Bahkan lebih spesifik lagi, sebagian besar penanggap menggunakan
>> tulisan
>> Ben
>> ini untuk menghantam kolom Rochman Achwan di *The **Jakarta** Post*
>> (20
>> September 2011) yang berjudul *UI's new hub of knowledge*.
>>
>>
>>
>> Menggunakan Ben untuk menghantam Rochman adalah sebuah tindakan konyol,
>> menunjukkan sikap kekanak-kanakan yang terus dipelihara (*prolonged
>> childhood*) yang merisaukan, karena betapa mudahnya melihat perbedaan
>> konteks antara tulisan Ben yang menyoroti fenomena surutnya peran
>> intelektual publik di sejumlah negara Asia Tenggara, dan sebagai
>> konsekuensinya, minimnya buku-buku bermutu di kawasan ini -- sebagian
>> penyebabnya adalah karena absennya akademisi menekuni riset (sosial
>> politik)
>> yang bermutu di kawasan ini -- dengan kolom Rochman yang spesifik
>> membedah
>> transformasi peran yang kini dilaksanakan UI lewat penggunaan serangkaian
>> parameter spesifik seperti SCOPUS Index, yang kini merupakan salah satu
>> indikator global dalam menakar posisi universitas di seluruh dunia.
>>
>>
>>
>> Argumen awal saya dalam dua posting pertama ("sudah dua kali mengetuk
>> pintu,
>> tapi tak masuk-masuk" istilah Farid) adalah menyangsikan sebagian besar
>> komentar-cepat-dan-asal-hantam-kromo sebagian besar penanggap (kecuali
>> Kang
>> Hasan, di antara sedikit yang masih mencoba obyektif), karena tak sesuai
>> dengan perjalanan hidup dan perjalanan karier Ben Anderson sendiri
>> sebagai
>> seorang Indonesianis yang tekun melakukan riset, rajin menerbitkan
>> publikasi ilmiah, selain berjudul-judul buku.
>>
>>
>>
>> Bagi saya, Ben adalah contoh sosok intelektual yang utuh. *He walks the
>> talk*. Intelektual seperti Ben tidak akan memilah apa yang dia kerjakan,
>> berbeda dengan apa yang dia katakan. Dan itu fondasi penting dalam
>> menakar
>> tulisan-tulisannya, apalagi yang bersifat opini, bukan hasil penelitian,
>> seperti ini.
>>
>>
>>
>> Lebih dari itu, judul artikel Ben Anderson sendiri sebetulnya sudah *
>> self-proclaimed* tentang - meminjam kalimatnya pada alinea ke-4 "*the
>> long-term decline of the traditional public intellectual*", merosotnya
>> peran
>> intelektual publik tradisional.
>>
>>
>>
>> Bukan tanpa maksud jika ilmuwan semumpuni Ben -- saya berulangkali
>> menabalkannya sebagai "Superman" peneliti dan akademisi - jika
>> menyebutkan
>> dengan begitu jelas frasa "*traditional public intellectual*" dalam
>> teksnya.
>> Mengapa dia harus meletakkan kata "*traditional*" di situ? Mengapa tidak
>> hanya cukup dengan "*public intellectual(s)*"? Apa yang sebenarnya ingin
>> disampaikan Ben?
>>
>>
>>
>> Dan yang merupakan jantung dari pendapat Ben adalah bagian kedua dari
>> judul
>> "... (*or A Tribute to Books*)", Sebuah Penghargaan bagi Buku-buku. Di
>> mana
>> pada bagian III tulisannya itu, dalam konteks Indonesia, sangat jelas
>> sekali
>> apa yang dia maksudkan, dan akan saya paparkan nanti.
>>
>>
>>
>> 1. Karena itulah seperti saya sebutkan pekan lalu, untuk membaca
>> tulisan
>> yang sangat kaya data dan kaya perspektif dari Ben "Superman" Anderson
>> ini,
>> saya memilih untuk merendahkan diri di depan teks, dalam arti yang
>> sebenarnya. Mencoba mengunyah dan memahami dulu dengan sebaik-baiknya
>> apa
>> yang ingin dia sampaikan Ben, sebelum memberi tanggapan dalam sebuah
>> 'paper
>> kecil' yang saya janjikan.
>>
>>
>>
>> Dan inilah hasil pembacaan saya yang terdiri dari dua bagian. Bagian I
>> merupakan ikhtisar dari tulisan Ben, dan bagian II merupakan hasil
>> pembacaan
>> saya, yang tentu terbuka untuk dilengkapi dengan hasil pembacaan anggota
>> milis lainnya.
>>
>>
>>
>> Semoga bermanfaat.
>>
>>
>>
>> Salam,
>>
>>
>>
>> ANB
>>
>>
>>
>> * * *
>>
>>
>> *MEMBACA BEN, MEMBACA FARID-ADE (1)*
>>
>>
>>
>>
>>
>> I. *Ikhtisar Tulisan Ben Anderson*
>>
>> * *
>>
>> Sembari menyatakan keberuntungannya dalam membaca
>> berjilid-jilid
>> risalah tahunan (yang dipublikasikan oleh Nippon Foundation), Ben
>> Anderson
>> cemas mengapa dalam *paper-paper* menyangkut kondisi Thailand mutakhir,
>> hampir tak terbaca (*barely mention*) penyebab kusutnya situasi adalah
>> akibat Thaksin Sinawatra -- dengan pendukungnya Gerakan Baju Merah (*Red
>> Shirt Movement*) - sebuah fenomena yang jelas sekali tergambar pada
>> laporan
>> surat-surat kabar. Begitu juga dalam *paper* tentang Filipina yang abai
>> melihat masa kepresidenan penuh bencana (*disastrous presidency*) Gloria
>> Arroyo-Macapagal sebagai penyebab karut-marut negeri itu. Padahal di
>> negeri-negeri itu, seperti juga Indonesia dan Filipina, pada dekade
>> terakhir
>> (1998-2008) ditandai dengan beragam peristiwa reformasi politik yang
>> mengagumkan namun berakhir menyedihkan dengan semakin menguatnya
>> oligarki,
>> dan (1) kian melebarnya kesenjangan ekonomi, (2) pelanggaran HAM yang
>> semakin sering, serta (3) kontrol negara terhadap media yang semakin
>> menakutkan.
>>
>> Pertanyaan pertama Ben adalah: Mengapa itu semua itu bisa
>> terjadi? (Maksud Ben adalah: mengapa semua gejala awal pembusukan di atas
>> tak tercium dari *paper-paper* Nippon Foundation yang dibacanya?)
>>
>> Ben menduga faktor pertama adalah menurun drastisnya peran
>> intelektual publik, seperti Renato Constantino (Filipina), Pramoedya
>> Ananta
>> Toer (Indonesia), Sulak Sivarak (Thailand), atau Amir Muhammad
>> (Malaysia),
>> sebagai penyuara bagi pembaca utama mereka: masyarakat.
>>
>> Constantino, penulis banyak studi sejarah Filipina dengan kecenderungan
>> nasionalis-kiri yang kuat, selalu mengkritik mental kolonial masyarakat
>> dalam tulisan-tulisannya. Toer, yang tak lulus SMA dan mendekam
>> bertahun-tahun di penjara, menulis serangkaian novel dan cerita pendek,
>> bagi
>> pembaca umum, dan kini belum ada pelanjutnya di Indonesia. Sivarak di
>> Thailand, bukan pemegang gelar akademik juga bukan jurnalis, pengkritik
>> utama monarki Negeri Gajah Putih, bertahun-tahun dituding melakukan
>> penghinaan terhadap takhta. Sedangkan Amir Muhammad, jauh lebih muda dari
>> tiga nama sebelumnya, juga bukan akademisi dan wartawan, dalam pandangan
>> Ben
>> Anderson adalah satiris nomor satu di Malaysia saat ini.
>>
>> Peran-peran intelektual publik yang diwakili nama-nama di atas itu
>> menunjukkan lowongnya okupansi para akademik, yang bagi Ben Anderson
>> membawanya untuk menyoroti dua kondisi mendasar, yakni (1)
>> Profesionalisasi
>> universitas yang menekankan pada fragmentasi bidang ilmu pengetahuan
>> (sehingga sulit sekali jika seorang sejarawan tertarik pada antropologi,
>> atau ekonom yang bergairah menggumuli sosiologi), serta berkembangnya
>> ungkapan-ungkapan khusus (*technical jargons*) yang hanya dipahami oleh
>> mereka yang mendalami disiplin ilmu yang sama, dan (2) Kooptasi
>> pemerintah
>> terhadap akademisi dan dunia pendidikan.
>>
>> Untuk menguraikan pengaruh profesionalisasi universitas (baca:
>> Pendidikan Tinggi di kawasan Asia Tenggara) Ben Anderson membutuhkan 13
>> (tiga belas) alinea, termasuk tentang anekdot yang disampaikan Amir
>> Muhammad
>> kepada Ben. Dibuka dengan ilustrasi bagaimana kampus-kampus di seantero
>> Asteng yang mengekor kampus-kampus di AS, Ben menjelaskan bagaimana
>> kampus-kampus di AS seharusnya juga dipandang lebih cermat karena
>> kondisinya
>> yang spesifik, misalnya, tak ada kampus di AS yang dimiliki pemerintah
>> dalam
>> tingkat nasional ("*no national-level state-owned universities*"), sebuah
>> kondisi yang amat diametral dengan keadaan di Asteng di mana
>> universitas-universitas top justru dimiliki oleh pemerintah.
>>
>> Kedua, tingkat pendapatan guru besar di AS, di dalam kampus, sudah
>> sedemikian mapannya dengan mendapatkan sedikitnya $ 100.000 per tahun
>> (sekitar Rp. 886 juta, dengan kurs 1 $ = Rp. 8.860 pada hari Rabu 19
>> Oktober
>> 2011), sementara di Asteng kondisinya buruk sekali. ("*In Southeast Asia,
>> in
>> contrast, are badly paid*"), ini menyebabkan, dalam pandangan Ben, banyak
>> akademisi ngobyek (*moonlighting*), dari mengejar di kampus lain,
>> 'berjudi'
>> di sektor properti (*speculating in real estate*), sampai yang terbanyak:
>> aji mumpung di media cetak (*mass media opportunies*), seperti menjadi
>> kolomnis, sampai pesohor layar gelas (*TV personalities*).
>>
>> Yang lebih memprihatinkan bagi Ben, beragam pilihan *moonlighting* itu
>> berakibat sama: mahasiswa tak dianggap penting (*neglected*), disepelekan
>> (*
>> ignored*), atau diperlakukan secara birokratis (*treated in the
>> bureaucratic
>> manner*). Akibat lebih jauhnya, dalam amatan Ben, sebagian besar
>> mahasiswa
>> terbaik adalah para otodidak yang tak respek kepada para
>> pengajar/dosen-dosen resmi mereka ("*This is why so many of the best
>> students are largely autodidacts and despise their nominal teachers*").
>>
>> Sedangkan untuk pengaruh kooptasi pemerintah terhadap
>> akademisi
>> dan dunia akademis, Ben mencontohkan kasus Indonesia pada dua periode di
>> bawah rezim Suharto (Ben menggunakan istilah "*what happened in the long
>> dictatorship of Soeharto*"). Periode pertama, pada 1978, ketika terjadi
>> demonstrasi mahasiswa besar-besaran di seluruh Indonesia, dimotori oleh
>> para
>> mahasiswa kampus bergengsi ITB. Dua dekade kemudian, pada 1998, ketika
>> pemberontakan terhadap (*rebellion against*) Suharto terjadi, ITB mandul.
>> Nyaris tak berbuat apa-apa. Kenapa?
>>
>> Sebab Suharto, dalam beragam program pembangunannya, sudah
>> mempekerjakan sebanyak-banyaknya lulusan ITB, atau mengirimkan mereka ke
>> luar negeri untuk studi lanjutan. Suharto tak lagi melihat (mahasiswa)
>> ITB
>> sebagai ancaman baginya, karena ITB mengalami kebangkrutan moral dan
>> orientasi politik dalam masyarakat Indonesia ("*They no longer had a
>> political or moral base in Indonesian society*"). Absennya ITB dalam
>> perubahan sosial 1998 membuat posisi lowong mereka kini ditempati, dalam
>> pengamatan Ben, oleh kampus-kampus 'kelas dua' yang berorientasi
>> pendidikan
>> swasta (*private*) mau pun keagamaan (*religiously oriented*).
>>
>> Kooptasi pemerintah membawa Ben pada kesimpulan kedua: peran
>> kelompok-kelompok penghenti (*veto groups*) di Asteng. Di Indonesia,
>> *Veto
>> Groups* terpenting adalah militer dan politisi muslim. Begitu gigantiknya
>> peran *Veto Groups* ini sehingga menurut Ben, dalam 30 tahun terakhir dia
>> tak berhasil menemukan satu pun buku berbobot yang mengupas militer
>> Indonesia. Baik yang ditulis oleh akademisi Indonesia mau pun peneliti
>> asing. Bahan-bahan yang agak baik biasanya berasal dari NGO (Amnesty
>> International, Indonesia Watch, dll) namun juga memiliki dua kelemahan
>> mendasar (1) Biasanya tidak ditulis dengan sistematis, dan (2) Hanya
>> menyoroti pelbagai pelanggaran HAM di berbagai tempat.
>>
>> Sementara terhadap *Veto Groups* dari kalangan muslim, Ben
>> memindai adanya situasi janggal (*odd situation*) di mana jumlah nominal
>> pemeluk Islam yang mencapai 90 % dari populasi penduduk Indonesia, namun
>> kombinasi suara yang didulang partai-partai Islam selama 10 tahun
>> terakhir
>> tak pernah mencapai separuh dari jumlah nominal itu. Atau dalam
>> pertanyaan
>> yang dirumuskan Ben: Mengapa pada saat warna Islam secara nyata melonjak
>> dalam identitas muslim Indonesia dalam dekade terakhir, namun martabat
>> politisi muslim justru mencapai titik nadir sepanjang sejarah (*all-time
>> low
>> *)?
>>
>> "*Silence*," simpul Ben.
>>
>> (Perhatikan, dalam konteks ini, Ben sebetulnya sedang berteriak lantang:
>> tak
>> ada satu pun *buku berbobot* yang bisa menjelaskan kontradiksi
>> menyedihkan
>> ini. Untuk *Veto Groups* di berbagai negara Asteng lain, silakan cermati
>> sendiri pendapat Ben, karena bagi saya tidak terlalu relevan sebagai
>> contoh
>> dalam diskusi kita ini, apalagi dalam tanggapan saya nanti).
>>
>> Dengan semua argumentasi di atas -- yang diakui Ben sebagai
>> sebuah upaya provokasi, dia menyimpulkan bagaimana pentingnya sebuah
>> buku
>> (berbobot), terutama dalam konteks intelektual publik.
>>
>> Pertama, fungsi vital buku tetap tak tergantikan oleh beragam
>> media massa sekarang. Meski beragam media massa itu punya kelebihan
>> masing-masing dibandingkan buku, namun kekurangan mereka jauh lebih
>> menonjol
>> dibandingkan kekurangan buku (Contoh yang diberikan Ben adalah, koran
>> yang
>> selalu tenggelam dengan isu hari berikutnya; tayangan televisi yang sudah
>> tak diingat pemirsa lagi apa program tahun sebelumnya; film yang hanya
>> ditonton satu-dua kali, kecuali oleh para penggila film; internet yang
>> mempunyai *traffic* tinggi, sehingga mengurangi kenyamanan membaca;
>> sampai
>> Facebook yang tak memadai karena hanya diperuntukkan bagi pesan-pesan
>> singkat dan temporer). Buku mengatasi seluruh kendala itu memungkinkan
>> semua
>> tingkat kompleksitas berada di dalamnya, bisa dibaca ruang-ruang benak
>> pribadi pembaca, dan karena itu tak membutuhkan prasyarat tertentu yang
>> akan
>> menghadang pembaca (*no specified-in-advance readers*). Setiap orang bisa
>> belajar dari buku.
>>
>> Kesimpulan kedua adalah bahwa meski pun menurutnya fungsi yang
>> dijalankan Nippon Foundation dalam risalah ilmiah dan pengembangan
>> jaringan
>> (*development of networks*) sangat penting dan bernilai, Ben melihat hal
>> itu
>> tetap saja berlangsung dalam kelompok yang saling memahami satu sama
>> lain,
>> dan berpikir dengan cara yang sama terhadap problem yang sama. Sementara
>> (buku yang dihasilkan) para intelektual publik pada prinsipnya "berbicara
>> kepada semua orang". Mereka memiliki pembaca yang bukan hanya orang-orang
>> dekat yang mereka kenal (*not exactly the same as close contacts*).
>>
>> Kesimpulan ketiga, terakhir, dan terpenting, yang disampaikan
>> Ben adalah sebuah kalimat yang tersusun dari lima kata: *But Every
>> Society
>> Needs Both*. Bahwa seluruh masyarakat, di negara mana pun juga,
>> membutuhkan
>> kedua jenis tulisan.
>>
>> Baik jenis *paper* (seperti diterbitkan Nippon Foundation), mau pun
>> karya-karya intelektual publik (seperti pernah dilahirkan Renato
>> Constantino
>> di Filipina, atau Pramoedya Ananta Toer di Indonesia).
>>
>>
>>
>> II. *Tanggapan Saya Terhadap Teks Ben (Peluang Diskusi)*
>>
>>
>>
>> 1. Sifat dasar risalah ilmiah dan berita surat kabar adalah berbeda.
>> Jika
>> Ben Anderson memfokuskan perhatian pada dekade terakhir (1998-2008)
>> dalam
>> melihat Thailand berdasarkan indikasi munculnya "Gerakan Baju Merah"
>> (*Red
>> Shirt Movement/RSM*) yang merupakan sekumpulan masyarakat rural
>> pendukung
>> (mantan PM) Thaksin Shinawatra -- sebagai lawan dari *Yellow Shirt
>> Movement*/YSM, sekumpulan masyarakat urban pendukung, juga mantan PM,
>> Abhisit Vejjajiva -- saya bisa paham jika Ben tak menemukan itu pada
>> risalah-risalah ilmiah Nippon Foundation yang dibacanya, bahkan untuk
>> sekadar indikasi awal kelahiran RSM.
>>
>>
>>
>> Ada dua problem mendasar di sini, yakni (1) saya, dan "kita" semua, tak
>> mengetahui dengan persis tema (dan judul-judul risalah) yang dibaca Ben
>> Anderson tentang Thailand itu, meski kita bisa menduga bahwa Ben sebagai
>> ilmuwan politik pastilah akan tertarik pada tema-tema politik juga dalam
>> risalah yang dibacanya. (2) Terminologi RSM adalah ungkapan yang baru
>> memasyarakat setelah Abhisit naik ke kursi Perdana Menteri pada Desember
>> 2008, menyusul vakum kursi kekuasaan yang di(paksa)tinggalkan oleh
>> Thaksin
>> akibat keputusan pengadilan yang membubarkan partai Thaksin, dan membuat
>> pemerintahannya tidak absah. Thaksin dan para pendukungnya yakin bahwa
>> semua
>> keputusan yang dimotori oleh militer Thailand itu, termasuk mengangkat
>> Abhisit dari Partai Demokrat, sebagai kudeta inkonstitusional. Barisan
>> para
>> pendukung Thaksin yang mengokupasi bandara, dan kemudian membanjiri
>> jalan-jalan di Bangkok pada awal 2009 inilah yang kemudian menamakan
>> diri,
>> dan dikenal di seluruh dunia sebagai RSM, sementara para pendukung kubu
>> Abhisit kemudian dikenal sebagai YSM.
>>
>>
>>
>> 1. Berdasarkan pembacaan saya terhadap teks Ben seperti pada ikhtisar
>> di
>> atas, jelas sekali bahwa Ben bukan sedang merutuki "akademisi yang
>> hanya
>> bersibuk ria dengan penelitian, dan abai pada perannya terhadap
>> masyarakat"
>> (atau apa pun istilah serupa yang ingin digunakan), melainkan lebih
>> pada
>> keprihatinan Ben pada kedua sisi yang sama-sama MANDUL menghasilkan
>> buku-buku bermutu tentang situasi terkini di negara masing-masing. Kubu
>> akademisi disibukkan pada isu profesionalisasi universitas (terutama
>> oleh
>> pengelola kampus), sementara di tingkatan pengajar berlangsung *
>> moonlighting* gila-gilaan. Sementara di kubu intelektual publik,
>> terjadi
>> kemerosotan (regenerasi) yang tak kalah mencemaskan, terutama dari
>> kalangan
>> jurnalis (karena Ben beberapa kali memberikan atribut pada intelektual
>> publik yang disebutnya sebagai "*non-journalist*", sehingga hemat
>> saya,
>> ini juga sebuah tohokan bagi profesi jurnalis kontemporer).
>>
>>
>>
>> 1. Mandulnya buku-buku bermutu, dalam, obyektif, yang dalam konteks
>> Indonesia sudah berjalan selama 30 tahun terakhir (dalam konteks studi
>> militer dan studi Islam), bukan saja diakibatkan kemandulan para
>> akademisi
>> nasional dan intelektual publik lainnya, melainkan juga oleh,
>> tragisnya,
>> para peneliti dan akademisi internasional. Ben melihat kemandulan ini
>> sebagai akibat kuatnya cengkeraman *Veto Groups* dalam konstelasi
>> politik
>> domestik Indonesia, yakni kalangan militer dan politisi muslim (yang
>> bisa
>> diperluas menjadi: muslim kelas menengah).
>>
>>
>>
>> 1. Dalam konteks studi militer di Indonesia, saya tidak tahu apakah
>> Ben
>> Anderson sempat membaca, misalnya, beberapa publikasi yang diterbitkan
>> George Aditjondro tentang profil bisnis ABRI/TNI dalam dekade yang ia
>> maksudkan (1998-2008), meski di sisi lain 'temuan-temuan' George
>> Aditjondro itu -- saya amini esensi pendapat Ben tentang laporan NGO -
>> yang
>> disusun kurang sistematis.
>>
>>
>>
>> Karena minimnya pengetahuan saya tentang topik ini, silakan kawan-kawan
>> (akademisi mau pun jurnalis) yang mendalami hal ini untuk berkomentar
>> lebih
>> rinci (adakah mas Atmadji Sumarkidjo atau mas Julius Pour, misalnya, juga
>> ada di milis ini?)
>>
>>
>>
>> 1. Dalam konteks kebangkitan politisi (dan kelas menengah) muslim
>> dalam
>> dekade terakhir seperti disitir Ben, saya melihat dari jalur madani
>> yang
>> diambil kelas menengah (dan kaum terdidik muslim), beberapa program
>> yang
>> dijalankan tak disertai persiapan yang baik, selain dijalankan dengan
>> mengabaikan banyak prinsip profesional.
>>
>>
>>
>> Saya akan mengambil sebuah ilustrasi yang agak panjang di bagian ini.
>>
>>
>>
>> Izinkan saya mengambil contoh majalah *Madina*, yang didirikan oleh Farid
>> Gaban dkk (sekaligus pemimpin redaksi pertama), sebelum dilanjutkan Ade
>> Armando (pemimpin redaksi kedua). Tim Redaksi lainnya adalah: Ihsan Ali
>> Fauzi dan Hikmat Darmawan. Sementara di Dewan Redaksi duduk: Komaruddin
>> Hidayat, Haidar Bagir, Anis Baswedan, dan Imam Prasodjo.
>>
>>
>>
>> Ringkasnya: komposisi yang sangat berbobot, dan menjanjikan akan adanya
>> suguhan informasi yang 'ramah dan mencerahkan' (sebagaimana klaim awal
>> majalah ini). Tentu saja 'ramah dan mencerahkan' ini adalah tema yang
>> dirumuskan setelah melihat betapa pada saat itu ranah media-media Islam
>> tanah air disesaki oleh media-media bersuara lantang yang mudah
>> mengkafirkan
>> kanan-kiri.
>>
>>
>>
>> Edisi perdana *Madina, *terbit 2007 (masih dalam dekade yang diamati Ben
>> Anderson) berisi sajian rames segala macam. Dari topik utama "Islam Lima
>> Belas Menit" (Budaya Pop Islam di Indonesia, dari penerbit Islam yang
>> menerjemahkan karya-karya Dan Brown, sampai bolehkah ada adegan mesra
>> dalam
>> film *Ayat-ayat Cinta?*); Membedah Bank Syariah (semakin diminati di
>> negeri
>> Barat, termasuk di negeri Barat yang non-muslim); Anugerah Aga Khan Award
>> 2007 (untuk sekolah miskin); Kontroversi penggalian arkeologis Israel di
>> kompleks Masjidil Aqsa; Profil Fatulleh Gullen (sosok Islam paling
>> berpengaruh di Turki), obituari Benazir Bhutto (1953-2007), sampai Legion
>> Islam di Liga Eropa: Para Penerus Zidane (Robbie van Persie, Nicolas
>> Anelka,
>> Frank Ribbery, dll).
>>
>>
>>
>> Perhatikan bagaimana pilihan topik itu -- meminjam bahasa *Madina*
>> sendiri
>> -
>> sesungguhnya tak lebih dari "Topik-topik Lima Belas Menit" yang bisa
>> dicari
>> siapa pun di internet. *Just one click away*.
>>
>>
>>
>> Baru pada edisi perdana: *Madina* sudah dengan gagah berani menggaungkan
>> jadwal kematiannya sendiri, lewat suguhan topik yang bisa dibaca, bahkan
>> kerap sudah dikupas lebih dalam, di majalah berita lainnya.
>>
>>
>>
>> Padahal, seperti terlihat pada nama-nama di *masthead*, baik Tim Redaksi
>> mau
>> pun Dewan Redaksi, semuanya nama-nama berbobot. Lantas di mana
>> kesalahannya?
>> Investor? *Nein*. (Sudah untung ada investor yang bersedia "bersedekah"
>> sebaik itu mengorbankan tabungan mereka). Tokoh-tokoh nasional yang
>> menjadi
>> Dewan Redaksi? *Non*. Tentu tidak, karena mereka juga punya kesibukan
>> sehari-hari yang luar biasa padat di luar mengurusi majalah. Jadi
>> kegagalan
>> pertama, pastilah di tangan Pemimpin Redaksi, bukan karena tak adanya
>> *skill
>> teknis* dalam pengelolaan media cetak, melainkan karena miskinnya
>> pemahaman
>> dan visi tentang apa itu Islam yang 'ramah dan mencerahkan', dan tentang
>> bacaan mengenai Islam seperti apa yang sedang ditunggu-tunggu masyarakat.
>>
>>
>>
>> Farid Gaban dkk, dari sajian Edisi Perdana *Madina*, jelas sekali tak
>> bisa
>> membaca apa yang dibutuhkan pembaca (*need*), bukan hanya yang sekadar
>> ingin
>> diketahui pembaca (*want*).
>>
>>
>>
>> Masih untung dalam Edisi Perdana itu ada beberapa tulisan berbobot/kolom
>> oleh Haidar Bagir, Nurul Agustina, Rizal Panggabean, dan, harus saya
>> katakan
>> secara *fair*, kolom Farid Gaban sendiri (*Teologi Pembebasan ala
>> Salman*)
>> yang cukup inspiratif.
>>
>>
>>
>> Kualitas tulisan-tulisan lainnya? Cukup dituliskan oleh calon reporter
>> saja
>> sebenarnya. Saya nyaris tak percaya bahwa penulis-pemikir berbakat Hikmat
>> Darmawan (adik kelas saya di SMAN 8 Jakarta dan FISIP UI) "dijerumuskan"
>> untuk mereproduksi berita-berita yang tak mendorong potensinya sebagai
>> calon
>> penulis-pemikir masa depan berkembang secara optimal.
>>
>>
>>
>> Semakin lama, apalagi setelah kemudi pemimpin redaksi berganti dari Farid
>> Gaban ke Ade Armando, perubahan cara penyampaian juga terjadi.
>> Bahasa-bahasa
>> dalam *Madina* semakin keras. Semakin sulit mencari bukti "ramah dan
>> mencerahkan" dalam pelbagai artikel *Madina*. Apalagi jika Ade Armando
>> sendiri yang menulis, dengan pilihan diksi yang sama saja saat menulis di
>> *
>> Madina* atau *wall* Facebook-nya.
>>
>>
>>
>> Jika dulu *Madina* diniatkan lahir sebagai media alternatif bagi
>> media-media
>> Islam garis keras (paling tidak dalam diksi yang digunakan), *Madina*
>> pada
>> akhirnya menyerupai apa yang ingin dihindarkannya: juga memaki-maki apa
>> yang
>> tidak mereka setujui, hanya dalam kutub yang berbeda.
>>
>>
>>
>> Dengan meminjam pertanyaan Ben Anderson yang keheranan melihat bagaimana
>> dengan jumlah nominal muslim mencapai 90 % penduduk Indonesia, para
>> politisi
>> dalam partai Islam gagal mendulang, setelah seluruh suara mereka
>> dikombinasikan, separuh dari angka itu, bukankah keheranan Ben bisa kita
>> lihat juga pada contoh *Madina* sebagai studi kasus: bagaimana para
>> cendekiawan Islam yang mengelola sebuah majalah Islam, gagal menarik
>> simpati
>> pembaca muslim yang semangat keislaman mereka sedang berkembang di
>> berbagai
>> bidang. Bahkan Farid Gaban dan Ade Armando (dalam kapasitas keduanya
>> sebagai pemimpin redaksi), gagal memanfaatkan 'kegerahan' pembaca muslim
>> (kelas menengah) yang sudah enggan membaca media-media garis keras.
>>
>>
>>
>> Apalagi kegagalan yang lebih fatal dari itu, apalagi jika dilihat *track
>> record *keduanya yang, jika digabungkan, memiliki pengalaman panjang
>> dalam
>> dunia jurnalistik, pakar ilmu komunikasi, menjalani masa-masa gemblengan
>> di
>> lingkungan Islam (dari *Republika* sampai The Habibie Center yang sangat
>> *
>> Islamic-oriented*).
>>
>>
>>
>> Semua kehebatan gabungan Farid Gaban dan Ade Armando, praktis tak
>> terlihat
>> sama sekali dalam jejak mereka membesarkan - dan mungkin satu-satunya
>> kesempatan emas yang mereka miliki seumur hidup untuk bisa "ramah dan
>> mencerahkan" mayoritas muslim di Indonesia. (Selain, dalam konteks
>> kompetisi
>> pragmatis, untuk menandingi dan penyeimbang terhadap *Tempo* sebagai
>> media
>> "sekular-nasionalistis" yang *de facto*, justru 'ramah dan mencerahkan'
>> para
>> pembaca).
>>
>>
>>
>> Yang lebih tragis dari itu adalah bagaimana baik Farid-Ade gampang sekali
>> menyerah, sehingga *Madina* berumur pendek. Terlalu mudah. Bahkan
>> dibandingkan dengan media-media Islam lainnya. Apakah Farid-Ade kembali
>> akan
>> menyalahkan matinya *Madina* karena keengganan investor melanjutkan
>> investasi mereka?
>>
>>
>>
>> Farid-Ade bahkan belum mengalami sepersejuta kesulitan yang dialami
>> Goenawan
>> Mohamad dkk ketika media mereka dua kali dibredel pemerintah Orde baru
>> (pada
>> 1982 setelah memuat wawancara eksklusif dengan taipan Liem Sioe Liong,
>> dan
>> menjadi satu-satunya media nasional yang bisa melakukan itu, serta
>> pembredelan 21 Juni 1994 setelah menginvestigasi patgulipat proyek kapal
>> laut butut Jerman yang konon, menurut laporan *Tempo*, dilakukan oleh
>> B.J.
>> Habibie saat menjabat sebagai Menristek).
>>
>>
>>
>> Yang menjadi pertanyaan adalah: mengapa Ade Armando (seorang doktor ilmu
>> komunikasi, seorang *scholar*) dan Farid Gaban (seorang intelektual
>> publik,
>> menurut definisi Ben Anderson), menunjukkan sikap mudah menyerah yang
>> begitu
>> mengherankan? Jawabannya: hanya mereka berdua yang tahu pasti. Tapi
>> dugaan
>> saya:
>>
>>
>>
>> 5.1. Farid-Ade tak cukup punya idealisme untuk memperjuangkan apa
>> yang
>> mereka yakini, terutama saat kesulitan datang (tak seperti GM dkk di
>> *Tempo*).
>> Padahal apa sih kesulitan *Madina* selain kesulitan teknis yang juga
>> dialami
>> pengelola media lain, berupa pembaca yang sedikit dan iklan yang tak
>> mencukupi, tapi bukankah justru itu tantangan bagi setiap pengelola media
>> karena tak ada media di Indonesia yang begitu lahir langsung menjadi
>> primadona pembaca?
>>
>>
>>
>> 5.2. Yang paling menyedihkan, kalau ini betul, Farid-Ade memang tak
>> berniat memprioritaskan *Madina* sebagai "anak kandung pemikiran" mereka
>> yang harus dibesarkan dan diperjuangkan dengan berbagai cara, bahkan
>> termasuk kalau pun anda berdua harus "jual rumah, jual motor/mobil",
>> "ganti
>> investor", "mengutang kiri-kanan" seperti ditunjukkan para pengelola
>> media
>> yang militan lainnya.
>>
>>
>>
>> 5.3. Dan kalau *Madina* memang bukan prioritas dalam hidup Farid-Ade
>> yang patut diperjuangkan sampai kalian berdarah-darah, selain hanya
>> difungsikan sebagai halte sementara untuk menambah pendapatan (*business
>> as
>> usual*), atau sebagai sarana *moonlighting* mumpung ada investor-investor
>> kakap yang sedang percaya, maka tidakkah anda berdua sesungguhnya, wahai
>> Tuan Ade Armando *scholar* cemerlang, dan Tuan Farid Gaban sang
>> intelektual
>> publik berkilau -- kali ini saya akan pinjam kata-kata Farid - hanya
>> orang-orang terkutuk yang tak mampu berkorban lebih jauh untuk uang (dan
>> kepercayaan) orang lain (khususnya investor), dan tak mampu pula memenuhi
>> ekspektasi publik, khususnya pembaca muslim, yang sudah berharap banyak
>> pada
>> *credentials* anda berdua yang bergerbong-gerbong panjangnya itu.
>>
>>
>>
>> 5.4. Jika anda berdua melihat paparan saya ini sebagai serangan
>> frontal
>> dan pribadi, maka saran saya, yang sungguh-sungguh serius, ada tiga: (1)
>> Ambil wudhu, (2) Sholat sunnah dua rakaat, dan (3) Baca ulang teks Ben
>> Anderson ini dengan cermat, teliti, hati-hati, pada setiap tikungan diksi
>> yang Ben gunakan.
>>
>>
>>
>> Maka anda berdua akan tahu bahwa saya menulis sesuai koridor, baik dari
>> waktu/dekade yang diungkapkan Ben (1998-2008), mau pun dari kesimpulan
>> Ben
>> tentang *Veto Groups* kelompok muslim di Indonesia, di mana jika
>> premisnya
>> tentang "politisi muslim" itu diperluas menjadi "kelompok menengah Islam
>> yang terdidik" (akademik mau pun non-akademik/intelektual publik).
>>
>>
>>
>> Dalam koridor itu, anda berdua, Farid-Ade, suka atau tidak suka, berkenan
>> atau tidak berkenan, sesungguhnya termasuk dalam bagian *Veto Groups
>> *itu. *Creme
>> de la creme* dari muslim Indonesia yang sudah mendapatkan peluang emas
>> dalam
>> sejarah perkembangan (bacaan) Islam di Indonesia, dalam kapasitas anda
>> berdua sebagai Pemimpin Redaksi.
>>
>>
>>
>> Tahu bagaimana saya melihat sosok anda berdua sekarang dibandingkan
>> orang-orang seperti Jakob Oetama, Goenawan Mohamad, atau Aristides
>> Katoppo,
>> orang-orang yang saya yakin juga anda kenal secara pribadi, dan bahkan
>> mungkin lebih dekat dibandingkan saya?
>>
>>
>>
>> Jika Jakob, GM atau Tides yang melahirkan *Madina* dan menjadi pemimpin
>> redaksi majalah itu, yakinlah seyakin-yakinnya bahwa *Madina* akan
>> berkembang pesat dan tidak mati prematur seperti sekarang.
>>
>>
>>
>> Jangan dilihat dari sosok mereka bertiga sebagai legenda hidup pers
>> Indonesia sekarang, tapi kembalilah pada saat-saat awal ketika mulai
>> menggawangi media masing-masing, dengan kualitas teknologi media cetak,
>> yang
>> jika dilihat dari standard sekarang, amat sangat primitif. Ujian bagi
>> mereka
>> bertiga jauh lebih besar dibandingkan yang dihadapi Farid-Ade.
>>
>>
>>
>> Dan jangan pula dilihat karena mereka bertiga lebih pandai dalam
>> kemampuan
>> teknis jurnalistik atau manajemen media dibandingkan duo Farid-Ade.
>> Tidak.
>> Saya tidak percaya itu. Bahkan saya akan lebih percaya jika logikanya di
>> balik, bahwa Ade-Farid, pada saat menjadi pemred, jauh lebih cerdas
>> dibandingkan tiga nama di atas.
>>
>>
>>
>> Tetapi kenapa mereka bertiga sukses, dan Ade-Farid tidak?
>>
>>
>>
>> Penyebabnya ternyata sederhana saja: *They do their talks. They did. And
>> will always do.*
>>
>>
>>
>> Sedangkan Farid-Ade tak lebih dari dua orang dengan idealisme bangkrut,
>> tapi
>> malangnya, merasa kaya dengan fatwa-fatwa jurnalistik yang sering
>> pretensius
>> dan '*larger than (their) life*'.
>>
>>
>>
>> Fatwa-fatwa yang terbukti hanya terlihat indah di atas kertas, tapi tak
>> berjiwa tersebab publik bisa menyaksikan dengan sangat gamblang: bahwa
>> tak
>> ada roh dari berkitab-kitab fatwa jurnalistik yang diumbar Ade-Farid di
>> berbagai kesempatan itu yang bisa diterapkan untuk mereka sendiri. Dan
>> ini
>> tidak mengherankan sebenarnya. Karena jika untuk hal semendasar
>> verifikasi
>> saja mereka tak mampu melakukannya, apalagi mau bersungguh-sungguh
>> berjuang
>> mempertahankan idealisme dengan pengorbanan jiwa raga. *Silence*.
>>
>>
>>
>> Jadi jika anda berdua, Farid-Ade, masih yakin bahwa teks Ben Anderson ini
>> sedang membidik orang-orang seperti Rochman Achwan, *think again!*
>>
>>
>>
>> Saya sudah membantu anda berdua menyodorkan sebuah cermin jernih,
>> *crystal
>> clear*, untuk melihat bagaimana wajah anda berdua (dalam kapasitas
>> sebagai
>> insan jurnalistik dan pemimpin redaksi), yang sesungguhnya menjadi esensi
>> kritik Ben Anderson: yakni orang-orang yang sudah diberi berbagai
>> kemudahan
>> dan kelebihan oleh Tuhan dengan kecerdasan, koneksi bagus, kesempatan
>> emas
>> mengukir sejarah, *the chosen ones*, tapi tak punya daya juang sama
>> sekali
>> untuk melahirkan karya-karya bermutu yang akan menjadi saksi eksistensi
>> kalian semasa hidup, apatah lagi bagi generasi penerus.
>>
>>
>>
>> Ini yang dimaksudkan Ben sebagai "situasi ganjil" (*odd situation*) dalam
>> teksnya itu.
>>
>>
>>
>> Dan karena Ade Armando adalah seorang penggila bola yang luar biasa, akan
>> saya sampaikan metafor ini: Ade dan Farid adalah kapten-kapten
>> kesebelasan
>> dengan bola di kaki, yang sudah menghadapi 'gawang kosong sejarah masa
>> depan
>> Indonesia' untuk menciptakan gol-gol indah, mengukir dengan tinta emas
>> nama-nama kalian sebagai generasi pelanjut Jakob, GM, Tides, sebagai
>> tokoh
>> pers.
>>
>>
>>
>> Tetapi alih-alih menceploskan bola, mental kalian sebagai avonturir
>> membuat
>> kalian memilih menyerah dengan mudah, lalu keluar dari lapangan, menyeka
>> keringat, dan kemudian, *sim salabim abracadabra*, dengan senang hati
>> menjadi dua penonton *nyinyir* terhadap para pemain yang masih di
>> lapangan
>> (dalam arti luas, para pekerja pers lainnya, bukan hanya yang berkhidmat
>> di
>> *Madina*) yang belum tentu pernah dihinggapi nasib sebaik anda berdua.
>>
>>
>>
>> Jangan salah menyimpulkan, apalagi sampai memelintir, bahwa saya
>> mempertanyakan komitmen anda berdua sebagai muslim. Tidak. Urusan yang
>> satu
>> itu hanya Allah yang bisa menilai.
>>
>>
>>
>> Yang sangat terang benderang dalam konteks ini adalah anda berdua sebagai
>> "intelektual publik", "cendekiawan muslim", anda berdua sudah gagal total
>> dalam mengelola media Islam. Bisa jadi akan dipelajari para mahasiswa
>> jurnalistik nantinya sebagai salah satu pengelola media terburuk dalam
>> sejarah pers Indonesia, mengingat begitu besarnya dukungan (Mizan dan
>> Universitas Paramadina) serta nama-nama besar di Dewan Redaksi yang
>> menjadi
>> tambahan magnet bagi *Madina*.
>>
>>
>>
>>
>> 1. Tentang istilah 'intelektual publik' (*public intellectual*) yang
>> digunakan Ben Anderson, meski saya paham apa yang dia maksudkan, tapi
>> saya
>> kira terminologi ini bisa menjadi bahasan tersendiri jika ditilik dari:
>>
>> - Cocokkah istilah itu sebagai lawan (*antonym*) dari konsep *
>> Scholar*?
>>
>> - Mengapa jika penekanan pada satu pihak pada garis pendidikan (*
>> academic*), penekanan yang lain tidak pada garis pendidikan juga (*
>> non-academic*) sehingga dikotomi yang ada, kalau pun ingin dibenturkan,
>> adalah "academic intellectual" vis-a-vis "non-academic intellectual"?
>>
>> - Sebab penggunaan konsep "public" dalam ranah pendidikan,
>> biasanya
>> dibandingkan dengan konsep "private" seperti halnya dalam "public school"
>> versus "private school". Dalam konteks ini, istilah "public
>> (intellectual)"
>> bisa jadi kurang akurat konsep bandingan seperti disebutkan terdahulu.
>>
>> - Mengapa sebutan untuk orang-orang seperti itu tidak dimudahkan
>> saja dalam satu istilah besar: *intellectuals*, karena hanya rel hidup
>> mereka yang berbeda. Ada yang datang dari rel akademis dan ada yang
>> non-akademis. Dalam konteks ini, sebutan "academic intellectual" versus
>> "non-academic intellectual" akan lebih mengena, karena jauh di dalam hati
>> dari kedua intelektual beda rel ini, saya yakin keduanya ingin
>> mencurahkan
>> segala kemampuan mereka untuk memberikan kontribusi bagi sebesar-besar
>> kemakmuran rakyat. "*Public*" yang sesungguhnya.
>>
>>
>>
>>
>> Bersambung:
>>
>> Membaca Ben, Membaca Kita (2)
>>
>>
>>
>> Salam,
>>
>>
>>
>> Akmal Nasery Basral
>>
>>
>> [Non-text portions of this message have been removed]
>>
>>
>>
>> ------------------------------------
>>
>> Yahoo! Groups Links
>>
>>
>>
>>
>>
>> ------------------------------------
>>
>> Yahoo! Groups Links
>>
>>
>>
>>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> ------------------------------------
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> ------------------------------------
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

__._,_.___
Recent Activity:
MARKETPLACE

Stay on top of your group activity without leaving the page you're on - Get the Yahoo! Toolbar now.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar